Islam dan Pilihan Bunuh Diri

Berita tentang sejumlah orang yang mengakhiri hidupnya dengan cara
bunuh diri cukup kerap terdengar di -setidaknya- sekitar awal sampai
pertengahan Desember 2009 lalu. Ada apa? Bagimana pandangan Islam?

Oleh: M. Anwar Djaelani*

Di Jakarta, bunuh diri dengan cara terjun bebas dari ketinggian sebuah gedung jangkung kini seperti menjadi modus favorit. Mereka –pelaku bunuh diri- memilih mal atau apartemen sebagai tempat untuk mengakhiri hidup dengan menjatuhkan diri, melayang deras, dan bruk. Kita lantas berseru: Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Akibat ‘pilihan’ cara mati seperti itu, si pelaku mendadak terkenal. Sebab, ‘aksi’ tersebut sangat mudah diketahui publik karena berlangsung di tengah keramaian. Maka, dalam waktu singkat, kabar tersebar cepat menyebar di berbagai media.

Tersebutlah, ada yang memilih terjun bebas dari lantai lima sebuah mal dan terjatuh di lantai satu, di saat pengunjung masih ramai. Ada pula yang terjun bebas dari lantai 27 di sebuah apartemen dan ditemukan meninggal di lantai 7, ketika jam masih menunjuk pukul 15.00.

Pilihan bunuh diri di tengah keramaian –tentu saja- cukup mengherankan. Sebab, di masa lalu, bila ada orang bunuh diri cenderung dengan cara yang meminimalkan jumlah orang bisa mengetahuinya. Itu dilakukan lantaran malu jika diketahui banyak orang sehingga memilih melakukannya di tempat-tempat tersembunyi. Tapi, sekarang?

Baca lebih lanjut

Permen Manis Bernama Dialog Antaragama

Tanpa kesalingpahaman antarpara pemeluk agama, tanpa  dukungan dan ketegasan para pemimpin negara masing-masing, dialog apapun hanya sia-sia

Oleh : Elvan Syaputra*

Baru-baru ini, Negara Swiss menetapkan hasil referendum yang menolak simbol menara masjid berdiri di negeri itu. Peristiwa maraknya kasus penolakan atas simbol-simbol agama dalam sebuah Negara merupakan wacana kontemporer umat beragama, khususnya ummat Islam saat ini. Pelarangan menara masjid  oleh pemerintahan Swiss merupakan tombak dari terpecahnya kerukunan umat beragama dan icon kebebasan yang selama ini amat dijunjung dan disanjung-sanjung di negeri Barat dan Eropa.

Kebebasan dan Hal Asasi Manusia (HAM) –yang selama ini amat disakralkan Barat—dalam perjalanannya tak sesakral saat dipraktikkan. Dengan alasan pelarangan,  pemerintah Swiss  mengharuskan masyarakat Muslim bersinergi dengan budaya setempat. Di Jerman, Prancis, dan Belanda, kaum Muslim diharapkan berintegrasi. Tidak menonjolkan identitas agama. Hal ini sesungguhnya lebih bernuansa  memojokan umat Muslim.

Konferensi para pemuka agama yang diprakarsai Communita Saint di Egidio, 21-24 Oktober di Napoli, membicarakan banyak tentang keharmonisan dan kerukunan antarumat beragama. Akan tetapi konferensi yang menghadirkan 400 tokoh agama ini tidak sepakat kepada sebuah keputusan yang dapat diterima oleh semua lapisan agama, khususnya agama Islam, yang menjadi sorotan dan fokus utama dalam perkumpulan pemuka agama tersebut. Pemecahan masalah yang diprakarsai oleh pemuka agama lebih condong kepada jalur kerukunan dan jalur kesepahaman saja. Tidak terdapat ketegasan yang final dalam menentukan apa yang harusnya dibatasi dan apa yang harusnya didukung oleh kalangan agamawan, baik praktisi maupun yang sifatnya universal.

Baca lebih lanjut

Jagalah Kehormatanmu, Wahai Ukhti….

oleh: Ummu Unaysah

Menjadi laki-laki atau perempuan memang bukan pilihan kita. Tetapi menjadi laki-laki yang baik atau buruk adalah sebuah pilihan dalam genggaman kita. Terlebih-lebih bagi perempuan, mau menjadi wanita shalihat atau ahli maksiat adalah pilihan yang harus diambil.

Dalam setiap tayangan TiVi, dapat dipastikan bahwa wanita senantiasa menghiasi semua program. Iklan-iklanpun bertaburan bintang-bintang wanita sekalipun barang yang dijual tidak ada hubungan sama sekali dengan wanita. Wanita sudah menjadi bagian penting dalam promosi, bahkan komoditi itu sendiri.

Tak jarang, wanita-wanita seperti ini menjadikan profesi bintang publikasi sebagai cita-cita dan tujuan hidupnya karena dengannya popularitas dapat diraih dan duitpun menumpuk di kantong. Untuk mencapai tujuannya ini tak jarang mereka menggunakan segala cara. Tubuh yang Allah anugerahkan untuk dijaga kehormatan dan ditutupi auratnya justru dieksploitasi habis-habisan. Tak sedikit yang kemudian menggadaikannya…

Duhai diri, apa yang akan kau sampaikan di hadapan Rabbmu di hari pengadilan nanti?

Baca lebih lanjut

LDK Peringati 22 Tahun Intifadha

LDK Peringati Intifadha

JAKARTA — Ketua Komite Indonesia untuk Solidaritas Palestina (KISPA), Ferry Nur, berharap rakyat Indonesia terus memelihara kepedulian terhadap nasib dan perjuangan rakyat Palestina. Sebab, rakyat Palestina membutuhkan dukungan umat Islam dalam perjuangannya.

Ferry menyatakan, perjuangan rakyat Palestina terus berlangsung untuk lepas dari penjajahan Israel, termasuk dalam bentuk perlawanan rakyat semesta atau intifadha, yang pada 8 Desember 2009 lalu telah berusia 22 tahun.

”Rakyat Indonesia perlu terus memberikan dukungan baik dalam bentuk dana maupun doa. Segala doa yang dipanjatkan akan memberikan ketegaran bagi rakyat Palestina dalam menjalankan perjuangannya,” kata Ferry di Jakarta, Kamis (10/12).

Menurut Ferry, dukungan rakyat Indonesia terhadap perjuangan rakyat Palestina selama ini telah terlihat jelas. Demikian pula, dengan Pemerintah Indonesia. Namun, ia berharap agar pemerintah bisa lebih banyak melakukan realisasi dukungannya. Jadi, bukan sekadar retorika.

Ferry mengatakan, hal yang kini perlu mendapatkan perhatian adalah desakan kepada Israel untuk membuka perbatasan Raffah. ”Tertutupnya perbatasan ini telah membuat Palestina, khususnya Gaza, seperti penjara besar,” katanya.

Baca lebih lanjut

Taliban Menakutkan? Kata Siapa?

Sudah sejak lama Taliban diberitakan sebagai kelompok Islam yang sentimen terhadap kaum perempuan. Media-media memberitakan bahwa Taliban melarang perempuan ke sekolah dan mengebiri potensi perempuan yang lainnya. Kenyataannya?

Dr Sakena Yacoobi, kepala Afghan Learning Institute, mempunyai pengalaman lain. “Rakyat Afghanistan mempercayai dan melindungi kami karena kami bekerja untuk akar rumput, berdsarkan budaya dan tradisi mereka.” Paparnya.

Yacoobi berusia 59 tahun. Ia sempat sekolah di Amerika setelah meninggalkan Afghanistan pada tahun ketika Soviet menjajah 1979. Di Amerika, ia mendapatkan gelar PhD-nya. Kemudian ia kembali ke Pakistan dan bekerja sebagai petugas sukarelawan di kamp pengungsian.

Ia kembali ke Afghanistan pada tahun 1995 dan kemudian mendirikan sekolah untuk perempuan. Ia sekarang mempunyai sebuah institusi pendidikan yang telah memberikan edukasi kepada lebih dari 6,8 juta perempuan.

Baca lebih lanjut

Siapa Bilang AS Mau Angkat Kaki dari Afghanistan?

Presiden AS Barack Obama boleh saja beretorika akan menarik pasukannya dari Afghanistan dalam sekian bulan atau tahun. Tapi tidak demikian halnya dengan Menteri Pertahanan Robert Gates yang terang-terangan mengatakan bahwa tidak ada batas waktu bagi penarikan mundur pasukan AS di Afghanistan. Itu artinya, AS bisa selamanya menjajah dan memporak-porandakan Negeri Para Mullah itu.

“Terus terang, saya benci dengan istilah strategi keluar,” kata Gates. Dengan sesumbar, Gates berjanji akan lebih fokus untuk memburu anggota dan para pendukung Al-Qaida dengan “tujuan yang jelas dan kemajuannnya bisa terukur.”

Baca lebih lanjut

Tahukah Anda Siapa Penemu Gips?

Abu Al Zahrawi, Sang Penemu Gips Era IslamAbu Al Zahrawi merupakan seorang dokter, ahli bedah, maupun ilmuan yang berasal dari Andalusia. Dia merupakan penemu asli dari teknik pengobatan patah tulang dengan menggunakan gips sebagaimana yang dilakukan pada era modern ini. Sebagai seorang dokter era kekalifahan, dia sangat berjasa dalam mewariskan ilmu kedokteran yang penting bagi era modern ini.

Al Zahrawi lahir pada tahun 936 di kota Al Zahra yaitu sebuah kota yang terletak di dekat Kordoba di Andalusia yang sekarang dikenal dengan negara modern Spanyol di Eropa. Kota Al Zahra sendiri dibangun pada tahun 936 Masehi oleh Khalifah Abd Al rahman Al Nasir III yang berkuasa antara tahun 912 hingga 961 Masehi. Ayah Al Zahrawi merupakan seorang penguasa kedelapan dari Bani Umayyah di Andalusia yang bernama Abbas. Menurut catatan sejarah keluarga ayah Al Zahrawi aslinya dari Madinah yang pindah ke Andalusia.

Al Zahrawi selain termasyhur sebagai dokter yang hebat juga termasyhur karena sebagai seorang Muslim yang taat. Dalam buku Historigrafi Islam Kontemporer, seorang penulis dari perpustakaan Viliyuddin Istanbul Turki menyatakan Al Zahrawi hidup bagaikan seorang sufi. Kebanyakan dia melakukan pengobatan kepada para pasiennya secara cuma-cuma. Dia sering kali tidak meminta bayaran kepada para pasiennya. Sebab dia menganggap melakukan pengobatan kepada para pasiennya merupakan bagian dari amal atau sedekah. Dia merupakan orang yang begitu pemurah serta baik budi pekertinya.

Baca lebih lanjut