Insyaa-aLLAAH :)

“إِنْشَاءَ اللّه”
insyaAllah“..

Seringkah Anda mengucapkannya? Apa yang Anda maksudkan setiap kali mengucapkannya? Terkadang, “insyaAllah” digunakan untuk menyatakan ketidakpastian kita terhadap suatu janji.. Terkadang pula, “insyaAllah” diucapkan untuk mengelak, padahal saat itu di benak terlintas kepastian untuk tidak hadir.

Baca lebih lanjut

Sunnah-sunnah Puasa

Berikut adalah beberapa amalan yang disunnahkan pada saat puasa.

1. Percepat berbuka begitu waktu adzan Maghrib sudah masuk

Rasulullah SAW bersabda: “Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.”
[HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098, dari Sahl bin Sa’ad. Hadits shohih].

Bagaimana dengan seorang Mu’adzin yang harus mengumandangkan adzan Maghrib? Hendaknya mu’adzin tersebut mengumandangkan adzan terlebih dahulu, untuk menyampaikan kepada orang-orang Mukmin bahwa waktu Maghrib telah tiba. Setelah selesai adzan, baru ia turut berbuka.

Baca lebih lanjut

Ikhlas dalam Bersedekah

Oleh: Hamli Syaifullah

Sedekah merupakan salah satu teori yang diberikan oleh Allah SWT untuk melipatgandakan harta yang dimiliki. Entah itu dilipatgandakan di dunia ataupun di akhirat kelak.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir, seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Ia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (alBaqarah [2]: 261).

Sangat menggiurkan sekali iming-iming yang ditawarkan oleh Allah dalam ayat tersebut. Di mana satu berbanding dengan tujuh. Hal inilah yang belum bisa disadari oleh umat Islam. Sebuah teori ekonomi untuk menginvestasikan harta yang dimiliki dengan hasil yang berlipat-lipat.

Baca lebih lanjut

Jangan Mempersulit Sesama Muslim

Berawal dari hal yang sangat sederhana, hanya karena mempersulit, berbelit-belit, atau mungkin hanya iseng untuk mengerjain seseorang, teman atau kerabat. akan tetapi sadarilah, hal yang diakibatkan oleh ulah kita tersebut insyaa-allah dapat mengakibatkan malapetaka yang amat panjang atau pedih atau bencana yang tak terkira kepada kita.

Bagaimana bisa, seseorang yang mengaku melakukan segala sesuatu untuk mencari ridlo Allah, menjalani hidup ini dengan ikhlas, bukan muslim yang abal abal (islam ktp), tetapi tingkah laku dan perilakunya tidak menggambarkan wajah islam yang hadir didalam kehidupannya. Memang dari segi moral tidak melakukan dosa-dosa besar, atau perbuatan yang terlarang dalam islam, tetapi memiliki kebiasaan untuk mempersulit siapa saja yang ditemuinya.

Baca lebih lanjut

Pentingnya Ilmu Sebelum Berkata dan Beramal

At Tauhid edisi IV/50

Oleh: Satria Buana

Pembaca yang dimuliakan oleh Allah ta’ala, kalau kita membicarakan Ilmu dalam islam, maka kita membicarakan sesuatu yang tidak ada habisnya untuk di bahas. Sejarah mencatat, kehidupan umat manusia sebelum diutusnya Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam sangatlah jauh dari petunjuk ilahi. Norma-norma kebenaran dan akhlak mulia nyaris terkikis oleh kerasnya kehidupan, karena itulah masa tersebut masa jahiliyah, yaitu masa kebodohan.

Ketika keadaaan manusia seperti itu maka Allah pun menurunkan Rasul-Nya, dengan membawa bukti keterangan yang jelas, supaya Rasul tersebut bisa membimbing manusia dari kegelapan menuju cahaya yang terang berderang dengan keterangan yang sangat jelas, dengan bukti-bukti yang sangat jelas, Allah ta’ala berfirman dalam al-Qur’an, “Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat, karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut (yaitu syaithan dan apa saja yang disembah selain dari Allah ta’ala) dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256)

Islam adalah agama yang sarat (penuh) dengan ilmu pengetahuan, karena sumber ilmu tersebut adala wahyu yang Allah ta’ala turunkan kepada Nabi kita Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan perantara malaikat Jibril ‘alaihis salam. Allah ta’ala Berfirman: “Dan tiadalah yang diucapkannya (Muhammad) itu menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (An-Najm: 3-4) Dengan ilmu inilah Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam tunjukkan semua jalan kebaikan, dan beliau peringatkan tentang jalan-jalan kebatilan. Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah Nabi yang terakhir dan sekaligus Rasul yang diutus kepada umat manusia dan jin. Maka ketika Rasulullah wafat, beliau telah mengajarkan ilmu yang paling bermanfaat dari wahyu Allah ta’ala, ilmu yang sempurna, ilmu yang membawa kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Maka barang siapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang cukup untuk kebahagiaannya di dunia dan akhirat.

Ilmu Dahulu Sebelum Amal

Baca lebih lanjut

Kekuatan Memberi

Oleh KH Didin Hafidhuddin

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Lail [92]: 5-10, ”Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.”

Tuntunan rabbani di atas secara jelas menggambarkan tentang kekuatan memberi, di samping kekuatan takwa dan keyakinan akan balasan Allah SWT di akhirat nanti, yang akan mendatangkan kemudahan dalam mengatasi berbagai persoalan hidup. Sebaliknya, kebakhilan (keengganan untuk memberi) dan kesombongan, serta sikap dusta pada pahala surga, hanyalah akan menyebabkan kesulitan dalam mengatasi berbagai persoalan kehidupan di dunia dan akhirat nanti.

Ayat tersebut juga mengajarkan bahwa memberi dalam segala bentuknya (seperti memberi harta, ilmu pengetahuan, maupun tenaga) untuk kemaslahatan bersama akan membawa ketenangan dan ketajaman hati serta pikiran. Sehingga, memberi itu akan mengundang keberkahan dan memperbanyak harta maupun ilmu yang sudah dimilikinya.

Baca lebih lanjut

Islam dan Pilihan Bunuh Diri

Berita tentang sejumlah orang yang mengakhiri hidupnya dengan cara
bunuh diri cukup kerap terdengar di -setidaknya- sekitar awal sampai
pertengahan Desember 2009 lalu. Ada apa? Bagimana pandangan Islam?

Oleh: M. Anwar Djaelani*

Di Jakarta, bunuh diri dengan cara terjun bebas dari ketinggian sebuah gedung jangkung kini seperti menjadi modus favorit. Mereka –pelaku bunuh diri- memilih mal atau apartemen sebagai tempat untuk mengakhiri hidup dengan menjatuhkan diri, melayang deras, dan bruk. Kita lantas berseru: Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Akibat ‘pilihan’ cara mati seperti itu, si pelaku mendadak terkenal. Sebab, ‘aksi’ tersebut sangat mudah diketahui publik karena berlangsung di tengah keramaian. Maka, dalam waktu singkat, kabar tersebar cepat menyebar di berbagai media.

Tersebutlah, ada yang memilih terjun bebas dari lantai lima sebuah mal dan terjatuh di lantai satu, di saat pengunjung masih ramai. Ada pula yang terjun bebas dari lantai 27 di sebuah apartemen dan ditemukan meninggal di lantai 7, ketika jam masih menunjuk pukul 15.00.

Pilihan bunuh diri di tengah keramaian –tentu saja- cukup mengherankan. Sebab, di masa lalu, bila ada orang bunuh diri cenderung dengan cara yang meminimalkan jumlah orang bisa mengetahuinya. Itu dilakukan lantaran malu jika diketahui banyak orang sehingga memilih melakukannya di tempat-tempat tersembunyi. Tapi, sekarang?

Baca lebih lanjut