Ikhlas dalam Bersedekah

Oleh: Hamli Syaifullah

Sedekah merupakan salah satu teori yang diberikan oleh Allah SWT untuk melipatgandakan harta yang dimiliki. Entah itu dilipatgandakan di dunia ataupun di akhirat kelak.

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah) adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada tiap-tiap butir, seratus biji. Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Ia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (alBaqarah [2]: 261).

Sangat menggiurkan sekali iming-iming yang ditawarkan oleh Allah dalam ayat tersebut. Di mana satu berbanding dengan tujuh. Hal inilah yang belum bisa disadari oleh umat Islam. Sebuah teori ekonomi untuk menginvestasikan harta yang dimiliki dengan hasil yang berlipat-lipat.

Baca lebih lanjut

Syafi’i Antonio: Meneladani Rosul, Kunci Sukses Keluar Krisis

Krisis multidemensi di Indonesia ini diakibat adanya kris keteladanan. Demikian ujar pengamat ekonomi Syariah, Dr. Syafii Antonioantonio_166_187

Hidayatullah.com– Umat Islam masih banyak yang mengkerangkeng Islam di masjid. Menjadikannya sebagai ritual keagamaan semata. Maulid Nabi, barzanji, tahililan, serta ritual lainnya diadakan secara besar-besaran dan masif. Sedangkan nilai universalitas Islam tidak pernah dibawa ke ranah luar, seperti perbankan, asuransi, ekonomi, politik, manajenem, dan lainnya. Padahal, jika mencinta nabi dan ingin menjalankan Islam tidak sebatas ritual semata. Jika ini tidak dilakukan, berarti kita mendhalimi Nabi. Karena tidak menjadikannya sebagai suri tauladan dalam setiap peran dan perbuatan.

Hal itu disampaikan Dr. H. M. Syafi’i Antonio dalam Kajian Aktual al-Falah (Kaafah) di WTC Lt 3 pada (29/3) kemarin. Kajian yang bertema “Meneladani Setiap Peran Dalam Perjuangan Dakwah” itu dihadiri lebih seribu donatur dan simpatisan Yayasan Dana Sosial al-Falah (YDSF).

Pria yang juga salah satu penulis terbaik Islamic Book Fair 2009 lewat bukunya, “Rosulullah SAW, Super Leader Super Manager”, ini mengatakan bahwa krisis multidemensi yang terjadi di Indonesia diakibatkan tidak adanya keteladanan (public figure) yang bisa diteladani umat. Syafii Antonio mengatakan, tidak adanya pemimpin yang memiliki integritas dan sifat amanah membuat bangsa ini chaos.

“Dilanda korupsi, krisis ekonomi dan krisis moral,” ujar Antonio. Hal itu juga, menurut pakar ekonomi syariah ini, demoralisasi pemimpin tersebut telah muncul sejak awal kampaye. Besarnya ongkos Pemilu yang dikeluarkan para caleg membuat mereka berfikir bagaimana cara mengembalikan modal tersebut.

“Jadi, setelah mereka terpilih menjadi wakil rakyat, bukan berfikir tentang kesehateraan rakyat, malah bagaimana mendapatkan uang,” terangnya.

Baca lebih lanjut