Islam dan Pilihan Bunuh Diri

Berita tentang sejumlah orang yang mengakhiri hidupnya dengan cara
bunuh diri cukup kerap terdengar di -setidaknya- sekitar awal sampai
pertengahan Desember 2009 lalu. Ada apa? Bagimana pandangan Islam?

Oleh: M. Anwar Djaelani*

Di Jakarta, bunuh diri dengan cara terjun bebas dari ketinggian sebuah gedung jangkung kini seperti menjadi modus favorit. Mereka –pelaku bunuh diri- memilih mal atau apartemen sebagai tempat untuk mengakhiri hidup dengan menjatuhkan diri, melayang deras, dan bruk. Kita lantas berseru: Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun.

Akibat ‘pilihan’ cara mati seperti itu, si pelaku mendadak terkenal. Sebab, ‘aksi’ tersebut sangat mudah diketahui publik karena berlangsung di tengah keramaian. Maka, dalam waktu singkat, kabar tersebar cepat menyebar di berbagai media.

Tersebutlah, ada yang memilih terjun bebas dari lantai lima sebuah mal dan terjatuh di lantai satu, di saat pengunjung masih ramai. Ada pula yang terjun bebas dari lantai 27 di sebuah apartemen dan ditemukan meninggal di lantai 7, ketika jam masih menunjuk pukul 15.00.

Pilihan bunuh diri di tengah keramaian –tentu saja- cukup mengherankan. Sebab, di masa lalu, bila ada orang bunuh diri cenderung dengan cara yang meminimalkan jumlah orang bisa mengetahuinya. Itu dilakukan lantaran malu jika diketahui banyak orang sehingga memilih melakukannya di tempat-tempat tersembunyi. Tapi, sekarang?

Baca lebih lanjut

Liberalisme dan Geliat Kampanye Gay

Sepintas membaca argumen kaum liberal kelihatan enak. Secara tidak langsung seolah menyalahkan Allah berlaku tak adil lewat syariat yang dibuat-Nya

Oleh Anwar Djaelani*

Situs berita http://www.hidayatullah.com tanggal 12 Nopember 2009, kemarin menulis seminar di IAIN Sunan Ampel Surabaya dengan tema “‘Nikah Yes! Gay Yes.” Ada dua pembicara di acara itu, seorang pelaku gay yaitu Erick Yusufanny dari Gaya Nusantara dan seorang dosen Institut Agama Islam Ibrahimi Situbondo yaitu Drs. Imam Nakhai, M.Ag.. Sementara, M Khadafi, dosen Sosiologi IAIN Sunan Ampel Surabaya –menurut panitia– merupakan tokoh di balik layar acara ini.

Erick mengatakan bahwa dia tetap beribadah dan tak mau mengganggu orang lain. Atas pernyataan ini, dapat kita ajukan pertanyaan. Jika benar dia tekun beribadah (secara benar), maka pasti dia akan berusaha untuk tak mencampur-adukkan yang haq dengan yang bathil. Dalam hal pelampiasan hasrat seksual, yang haq atau yang sesuai aturan-Nya adalah hanya dengan lawan jenisnya dan itupun jika sudah berada dalam ikatan pernikahan yang sah. Selain cara itu bathil.

Baca lebih lanjut