Masjid Al Aqsa Terkepung 50 Sinagoga

AMMAN, KOMPAS.com — Sebuah laporan resmi dari Palestina yang dikeluarkan pada Selasa (28/4) oleh lembaga Warisan dan Waqaf Al Aqsha mengungkapkan bahwa lebih dari 50 sinagoga (tempat ibadah Yahudi) telah didirikan dalam beberapa tahun belakangan di sekitar Masjid Al Aqsa.

Sejumlah sinagoga lagi akan dibangun, yang terbesar akan didirikan di sekolah Tankaseyah, bagian dari Masjid Al Aqsa.

Laporan yang disampaikan ke Kantor PBB di Amman, Jordania, tersebut menyatakan bahwa pemerintah pendudukan Israel telah menyetujui rencana pembangunan sinagoga itu dan menyediakan dana 40 juta dollar AS bagi tujuan tersebut.

Sinagoga terdekat dengan Masjid Al Aqsa dihiasi kubah besar yang dibangun secara sengaja guna mengganggu pemandangan dan menghalangi kubah Masjid Umar (Dome of Rock Mosque). Laporan itu juga menyatakan, sinagoga tersebut berada di bawah Masjid Al Aqsa. Sementara itu, sebuah terowongan digali oleh penguasa Israel dan kelompok Yahudi selain pembangunan sinagoga besar berukuran 1.000 meter persegi yang akan dibangun di lapangan Bouraq (Tembok Ratapan).

Selain itu, ada rencana untuk membangun satu sinagoga di Menara Al Laqlaq, daerah yang meliputi Masjid Al Aqsa di sisi timur laut. Sinagoga besar yang direncanakan segera dibangun di Lapangan Al-Bouraq tersebut akan digunakan sebagai pusat pengajaran Taurat dan rencana lain bagi sinagoga Burj Al-Laqlaq yang daerahnya meliputi Masjid Al Aqsa ke bagian timur laut.

Pemerintah pendudukan Israel juga berencana membangun sebanyak 35 rumah, 1sinagoga, dan 1.000 permukiman baru Yahudi di lingkungan Masjid Al Aqsa.

ONO
Sumber : Ant

Sumber: KOMPAS.com

Mengapa Takut pada PKS?

Wanandi: “The possibility that SBY will join with PKS makes us nervous. There is a lot of uncertainity around this. We don’t know if we can believe them.”Oleh: Sapto Waluyo (Direktur Eksekutif Center for Indonesian Reform)

Sebuah acara talk show di stasiun televisi berlangsung seru pasca Pemilu yang baru berlalu di Indonesia. Para pembicara berasal dari partai-partai besar peraih suara terbanyak: Anas Urbaningrum dari Partai Demokrat yang tampil sebagai pemenang pemilu, Sumarsono (Sekretaris Jenderal Partai Golongan Karya yang sempat shock karena tergeser ke ranking kedua), dan Tjahjo Kumolo (Ketua Fraksi PDI Perjuangan yang menempuh jalan oposisi). Narasumber keempat adalah seorang anak muda, doktor bidang teknik industry lulusan Graduate School of Knowledge Science, Japan Advanced Institute of Science and Technology (JAIST), Mohammad Sohibul Iman, dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Usai debat panas, Kumolo mendekati Iman dan berbisik: “Mas, bagaimana sikap teman-teman PKS terhadap PDIP? Posisi Hidayat Nur Wahid cukup berpengaruh di kalangan PDIP, dia menempati ranking kedua untuk mendampingi Ibu Mega.” Perbincangan intim itu tak pernah dilansir media manapun, meski publik mencatat Hidayat pernah diundang khusus dalam acara rapat kerja yang dihadiri pengurus dan kader PDIP se-Indonesia. Dua pekan setelah Pemilu, DPD PDIP Sulawesi Utara, yang berpenduduk mayoritas non-Muslim masih mengusulkan lima calon wakil presiden yang layak mendampingi Mega, yakni Sri Sultan Hamengkubuwono, Prabowo Subianto, Akbar Tanjung, Hidayat Nur Wahid dan Surya Paloh (Republika, 21/4). Itu bukti kedekatan partai nasionalis sekuler dengan Islam, lalu mengapa selepas pemilu yang aman dan lancar, tersebar rumor sistematik bahwa partai Islam radikal (PKS) menjadi ancaman keutuhan nasional Indonesia?

Baca lebih lanjut

Cinta

Assalamualaikum…

Ustadz saya mau tanya. begini pada dasarnya saia mempunyai prinsip tidak ingin mengatakan cinta kepada seorang wanita sebelum wanita itu menjadi isteri saya. Saat ini usia saia 20 thn dan saya jatuh cinta pada seorang akhwat. apa yang mesti saia lakukan? apakah saia harus mengutarakan cinta atau langsung mengatakan ingin melamar dirinya? Tapi saia masih kuliah dan mempunyai pekerjaan sampingan yang pendapatan hanya cukup buat saya seorang.

sultan

Baca jawabannya..

Bagaimana Agar Tidak Timbul Fitnah?

Ketika SMP saya satu sekolah dengan seorang wanita (nonmuslim yang baik) tapi belum saling mengenal, dan ketika SMA saya pindah rumah dan kebetulan dekat dengan wanita itu, dan kebetulan juga saya satu SMA dengan dia dan kini menjadi saling mengenal. Karena saya naik mobil ke SMA, saya dengan senang hati berangkat dan pulang bersama dia, saya hanya ingin berbuat baik. Tapi yang membuat saya bingung, sedikit demi sedikit mulai timbul fitnah dari teman-teman sekolah baik diungkapkan atau tidak, dan memang itu juga yang saya khawatirkan. Pertanyaannya, bagaimana saya seharusnya bersikap? Saya juga tidak ingin membiarkan seorang perempuan berjalan cukup jauh (naik bus kota), sementara saya naik mobil sendirian. Saya khawatir itu juga jadi pandangan yang buruk dari orang-orang yang tau kondisinya. Tolong beri masukan dan tuntunan Islam terhadap keadaan seperti itu. Terima kasih.

Ferry Harsanto

Jawaban

Ananda Ferry Harsanto yang disayang Allah SWT, sungguh mulia hati Anda yang ingin menolong teman wanita agar dapat menumpang mobil Anda untuk bersama-sama ke sekolah. Namun menolong orang tentu ada aturannya dalam agama kita (Islam).

Islam melarang kita untuk berdua-duaan dengan lawan jenis, kecuali sangat darurat (salah satunya karena alasan keamanan). Misalnya, seperti kisah Aisyah ra, isteri Rasulullah, yang tertinggal rombongan Nabi Muhammad saw di tengah padang pasir yang luas. Lalu ditemukan oleh seorang pria yang menemani beliau karena alasaan keamanan untuk menyusul rombongan Rasulullah saw (peristiwa tersebut dikenal dengan : Haditsul Ifk).

Dalam kasus Anda, tidak ada hal darurat karena alasan keamanan yang mengharuskan Ananda menemani teman wanita tersebut. Hanya perasaan tidak enak karena searah pergi dan pulang sekolah. Lagi pula naik kendaraan umum bagi wanita di masa kini adalah hal yang lumrah dan kecil kemungkinan terjadi gangguan keamanan yang dapat membahayakan jiwanya.

Oleh karena itu dalam kasus Anda berlaku aturan agama yang umum, yakni tidak boleh (haram) hukumnya Anda dan teman wanita Anda berdua-duaan, baik di dalam mobil atau di tempat-tempat lainnya. Berikut saya sertakan dalil yang melarang pria dan wanita berdua-duaan tanpa mahram :

“Jangan sekali-kali seorang laki-laki bersendirian dengan seorang perempuan, melainkan si

perempuan itu bersama mahramnya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari dan Muslim).

” Tidaklah seorang laki-laki berkhalwat dengan wanita kecuali pihak ketiganya adalah setan”

(Hadist riwayat Tumudzi)

“Sesungguhnya hendaknya tidak masuk seseorang laki-laki dari kamu, setelah hari ini kepada wanita yang tidak ada bersamanya (suami atau mahramnya), kecuali bersamanya seorang atau dua orang laki-laki.” (Hadist riwayat Muslim).

“Sesungguhnya ditusukan kepada salah seorang dari kalian dengan jarum dari besi lebih baik baginya daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya” (Hadist Riwayat Ath Thabrani dalam shahihul jami hadist no.4921).

Saran saya, sebaiknya Anda tidak usah mengantar teman wanita Anda lagi. Biar saja Anda dan teman wanita Anda berjalan sendiri-sendiri. Beritahu secara baik-baik kepada teman wanita Anda bahwa mulai saat ini Anda tidak bisa mengantarnya karena alasan agama. Jika ia kecewa dan menjauhi Anda, maka hal itu adalah resiko dari keinginan Anda yang ingin kembali kepada Allah dengan menjalankan perintah agama-Nya. Sesungguhnya ridho Allah harus lebih kita cari daripada kesenangan/ridho orang lain. Insya Allah hal ini juga lebih menyelamatkan Anda dan dia dari dosa/kemaksiatan yang lebih besar. Di samping itu juga untuk menghindari fitnah dari teman-teman Anda yang menyangka Anda pacaran dengannya.

Demikian jawaban saya. Semoga sifat penolong Anda tetap terjaga di bawah koridor agama yang kita cintai ini.

Salam Berkah!
(Satria Hadi Lubis)

Mentor Kehidupan

Sumber: eramuslim

Salman Audah Keluarkan Fatwa tentang Sepak Bola

Fatwa Dr. Salman Audah, pemain boleh sujud syukur, penonton boleh jadi suporter asal tidak fanatik terhadap club yang didukung.
Hidayatullah.com– Beberapa fatwa mengenai masalah olah raga telah dikeluarkan oleh Dr. Salman Audah, salah satu ulama masyhur dari Saudi. Diantara isi fatwa tersebut adalah bolehnya menjadi suporter di tribun stadion, dan bolehnya bagi pemain melakukan sujud syukur, setelah ia berhasil mencetak goal bagi timnya.

Fatwa yang pernah menimbulkan polemik di Saudi itu disampaikan saat beliau menyampaikan muhadharah di komplek club Al Ahli, di Jeddah, pada hari Ahad sore (19/4), di hadapan 700 peserta.

Sebenarnya, kehadiran beliau tidak untuk menjelaskan fatwa, akan tetapi menyampaikan ceramah yang bertajuk ”Ahlam As Syabab”, alias impian para remaja. Namun, di tengah-tengah acara tersebut seorang perserta menanyakan, mengenai boleh tidaknya pemain bola melakukan sujud, setelah ia berhasil mencetak goal.

Sebagaimana diketahui, bahwa di bulan Maret lalu Dr. Shalih bin Muqbil Al Ushaimi, anggota Jum’iyah Al Fiqhiyyah As Su’udiyah memfatwakan tidak bolehnya bagi pemain bola melakukan sujud, dengan argumen bahwa hal demikian memperburuk citra Islam dan bisa menimbulkan salah paham bagi non Muslim terhadap agama ini.

Baca lebih lanjut

Cara Bersemangat dan Berpikir Positif

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Kepada Yth. Bapak Ustadz pengasuh rubrik konsultasi eramuslim, aaya seorang mahasiswa di Bandung, pada saat akhir tahun ke-2 kuliah (semester 5), saya terpaksa meninggalkan kuliah karena ada masalah keluarga, juga karena ada masalah lain.

Saat ini setelah dua tahun berlalu alhamdulillah masalah-masalah tersebut sudah selesai dan saya pun berniat untuk melanjutkan kuliah kembali karena masih terdaftar di sebuah PTN. Namun ternyata ketika kembali memasuki aktivitas kuliah, saya justru malah mengalami tekanan mental dari diri sendiri. Entah kenapa saya merasa minder dan rendah diri, malu pada teman-teman dan keluarga, karena saya melihat teman-teman seangkatan sebagian sudah banyak yang lulus dan juga bekerja. Saya jadi merasa gagal, malu karena tertinggal jauh dari teman-teman. Saya jadi malas, apatis, dan lemah semangat, terasa sulit sekali untuk membangitkan motivasi lagi sehingga niat untuk meneruskan kuliah pun jadi terasa malas dan terasa menjadi beban.

Baca lebih lanjut

“Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah”

Mengapa setiap 21 April kita memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan? Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-269

Oleh: Adian Husaini

Ada yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS-Republika) edisi 9 April 2009 lalu. Dari empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama tentang Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar tentang Kartini. Judulnya: “Mengapa Harus Kartini?”

Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia ini mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Menyongsong tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut. Tentu saja, pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali dilontarkan sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik ‘pengkultusan’ R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Baca lebih lanjut