‘Sepilisasi’ dan Nativisasi Ancaman Peradaban Islam di Indonesia

Adian Husaini meraih gelar doktor. Tetap semangat “melawan” ‘virus’ sekularisme, liberalisme, dan pluralisme

Hidayatullah.com– Bahaya “virus” sekularisme, liberalisme, dan pluralisme (sering disingkat Sepilis) menjadi ancaman semua agama dan Negara. Sebab, virus-virus tersebut akan mencerabut sendi agama, budaya, dan nilai sebuah negara.

Liberalisme atau biasa disebut freedom yang diusung fremasonry misalnya, telah menjadikan Amerika pada titik kebebasan. Dibuktikan dengan adanya patung liberti. Padahal hal itu secara tidak langsung mengancam proses keberagamaan dan kultur Amerika itu sendiri.

Tak pelak, usaha-usaha “sepilisasi” yang dilakukan para kolonial Belanda juga telah lama terjadi di Indonesia. Dan sekarang terjadi dengan modus yang lebih canggih. Demikian salah satu paparan Adian Husaini dalam acara tasyakur dan orasi ilmiah Adian Husaini di Aula Al Furqan DDII pada Sabtu, (18/4).

Sebagaimana diketahui, Adian Husaini baru-baru ini telah berhasil meraih gelar doktor bidang peradaban Islam di International Institute of Islamic Thought and Civilization International Islamic University Malaysia (ISTAC-IIUM)..

Menurut pria yang rutin menulis di rubrik Catatan Akhir Pekan (CAP) Adian di situs http://www.hidayatullah.com ini, tujuan dari sepilisasi salah satunya adalah pemurtadan atau Kristensisasi (evangelisasi) dengan jalan yang sangat halus.

Dikatakan Adian, dalam konsep Katolik, misalnya ada perintah wajib ”Katolikasasi”. Dan hal itu, menurutnya, bisa dilihat dari beberapa universitas Katolik yang membuka kuliah Islam dengan menggunakan dosen liberal seperti Musdah Mulia. Dalam mata kuliah tersebut mahasiswa disuguhi diskursus Islam yang bisa mengaburkan ketauhidan.

Oleh karena itulah, Ketua Dewan Da’wah Islam (DDII) ini menghimbau agar masyarakat, terutama tokoh Islam memperhatikan proses evangelisasi yang berbalut pendidikan.

“Jangan sampai masyarakat hanya semangat mengegolkan UU Sisdiknas, tapi setelah itu tidak ada pemantauan,” katanya. Adian mengatakan, Natsir, sang pendiri DDII, telah memperjuangkan agar pelajaran agama Islam menjadi mata pelajaran wajib. Namun masalahnya, sekarang SDM guru agama sangat rendah. Tidak banyak orang tertarik menjadi guru agama.

“Jurusan agama Islam (tarbiyah) hanya menjadi “second choise”, ungkap alumnus Kedokteran Hewan IPB Bogor ini. “Bahkan, hal itu dilakukan oleh para ulama atau ustad,” imbuhnya.

Mereka bangga jika anaknya menjadi insiyur atau dokter, ketimbang menjadi guru agama. Akibatnya, SDM guru agama rendah dan tidak bisa menghasilkan out put yang memiliki integritas sebagai seorang Muslim yang memiliki wawasan Islam secara holistik.

“Jika ingin pendidikan agama maju, maka buku, guru, dan dosen harus berkualitas,” kata Adian. Dikatakan, Natsier dulu telah berusaha melakukan optimalisasi SDM dan buku yang berkualitas, dan tinggal kita meneruskannya.

Marjinalisasi

Adian juga mengatakan, terpinggirkannya peradaban Islam di Indonesia, karena memang ada upaya sistematis memarjinalkan ajaran Islam. Hal ini sudah dimulai sejak zaman penjajahan Belanda dan berlanjut hingga Indonesia merdeka.

Islam dianggap sebagai barang asing dan seolah-olah tidak memberikan sumbangan yang berarti bagi wilayah Nusantara. Indonesia sering dikaitkan dengan kerajaan Majapahit, sebagai puncak peradaban. Sebaliknya Islam diposisikan sebagai musuh dari tradisi-tradisi adat, kata Adian.

Kaitanya dengan liberalisasi dunia pendidikan, Adian menilai, ada rekayasa sejarah yang dilakukan tokoh-tokoh kolonial Belanda, di antaranya seperti Snouck Hurgronje. Dari penelitian literatur, bisa dilihat dari penokohan sosok Ibu Kartini, Ki Hajar Dewantara, dan Budi Oetomo.

Selain itu, Adian menilai, faktor nativisasi juga sangat berperan dalam menghambat proses perkembangan Islam. Nativisasi yang berbentuk inventarisasi bahasa Jawa di beberapa sektor masih kuat dilakukan. Misalnya menjadi frase bangsa. Seperti Bakti Yuda Sapta, Bhineka Tunggal Ika atau Tutwuri Handayani. Padahal, kalimat-kalimat tersebut adalah peninggalan bahasa Hindu Majapahit yang masih berperadaban batu.

Tak hanya itu, hari-hari nasional, tokoh nasional, dan berbagai istilah resmi kehidupan berbangsa dan kenegaraan, selalu dikaitkan dengan tradisi Jawa. Sepertinya dijauhkan dari unsur yang berbau Islam. “Kenapa Boedi Oetomo, bukan Syarikat Islam. Ki Hajar Dewantoro, bukan KH Ahmad Dahlan, dan Kartini, bukan Tjut Nyak Din atau Rohana kudus,” banding Adian.

Padahal, bisa diketahui, Kartini hanya berumur 25 tahun dan belum bisa berbuat banyak jika dibandingkan dengan tokoh lainnya.

“Masa kita ingin meningkatkan peradaban yang maju, namun masih menggunakan frase (kalimat) peradaban kuno,”ujar Adian. “Lebih bagus jika diubah menjadi iman, ilmu, dan jihad.”

Dan warisan nativisasi itu, sekarang masih marak dilakukan oleh banyak masyarakat, bahkan pejabat sekalipun. Banyaknya dibangun patung dengan dana milyaran rupiah. “Bahkan, yang tidak logis, ada seorang pejabat Muslim yang meresmikan patung seharga dua milyar itu,” ujar Adian.

Salah satu bukti, nativisasi rekayasa orientalis Belanda, menurut Adian bisa dilihat di kitab “Darmogandul”. Kitab tersebut dipopulerkan oleh Belanda yang akhirnya menjadi kitab bersejarah bangsa Indonesia.

Disertasi berjudul “Exclusivism and Evangelisme in The Second Vatican Council” ini mengklarifikasi sikap Gereja Katolik terhadap paham Pluralisme Agama, baik melalui dokumen-dokumen Konsili Vatican II maupun dokumen-dokumen pasca Konsili.

Posisi Vatikan

Adian menyelesaikan predikat doktor dengan desertasi berjudul, “”Exclusivism and Evangelisme in The Second Vatican Council” (Posisi Teologis Vatikan, setelah Konsili Vatikan II, yang berlangsung 1962-1965).

Tim penguji yang disupervisi oleh Associate Prof. Dr. Kamar Oniah Kamarzuman, seorang pakar Comparative Religion dari IIUM, menilai, disertasi ini penting dan diperlukan untuk menambah kekayaan khazanah intelektual dalam ilmu studi agama-agama.Karena itu pula, maka Tim Penguji juga merekomendasikan agar disertasi tersebut dapat diterbitkan oleh IIUM.

Tim penguji terdiri atas Associate Prof. Dr. Nasr Eldin Ibrahim Ahmed (IIUM), Associate Prof. Dr. Khadijah Mohd.Hambali (Pakar Perbandingan Agama dari Universiti Malaya), Dr. Uthman Muhammady (IIUM), dan Prof. Dr. Ibrahim Zein (IIUM). Disertasi Adian dinyatakan lulus dengan predikat Very Good PhD Thesis. [ans/www.hidayatullah.com]

Sumber: Hidayatullah.com

One thought on “‘Sepilisasi’ dan Nativisasi Ancaman Peradaban Islam di Indonesia

  1. Kalau virus HIV, Iman masih bisa tetap hidup hingga mati.
    Kalau virus Sepilis, iman mati duluan sebelum jasadnya mati.

    Jadi virus sepilis itu lebih berbahaya daripada HIV ?
    Wah perlu hati-hati terhadap virus sepilis..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s