Salman Audah Keluarkan Fatwa tentang Sepak Bola

Fatwa Dr. Salman Audah, pemain boleh sujud syukur, penonton boleh jadi suporter asal tidak fanatik terhadap club yang didukung.
Hidayatullah.com– Beberapa fatwa mengenai masalah olah raga telah dikeluarkan oleh Dr. Salman Audah, salah satu ulama masyhur dari Saudi. Diantara isi fatwa tersebut adalah bolehnya menjadi suporter di tribun stadion, dan bolehnya bagi pemain melakukan sujud syukur, setelah ia berhasil mencetak goal bagi timnya.

Fatwa yang pernah menimbulkan polemik di Saudi itu disampaikan saat beliau menyampaikan muhadharah di komplek club Al Ahli, di Jeddah, pada hari Ahad sore (19/4), di hadapan 700 peserta.

Sebenarnya, kehadiran beliau tidak untuk menjelaskan fatwa, akan tetapi menyampaikan ceramah yang bertajuk ”Ahlam As Syabab”, alias impian para remaja. Namun, di tengah-tengah acara tersebut seorang perserta menanyakan, mengenai boleh tidaknya pemain bola melakukan sujud, setelah ia berhasil mencetak goal.

Sebagaimana diketahui, bahwa di bulan Maret lalu Dr. Shalih bin Muqbil Al Ushaimi, anggota Jum’iyah Al Fiqhiyyah As Su’udiyah memfatwakan tidak bolehnya bagi pemain bola melakukan sujud, dengan argumen bahwa hal demikian memperburuk citra Islam dan bisa menimbulkan salah paham bagi non Muslim terhadap agama ini.

Akan tetapi, fatwa ini ditentang oleh beberapa ulama Al Azhar, dimana mereka menyatakan bahwa sujud syukur tetap dibolehkan, karena memperoleh goal bagian dari nikmat.

Pemain Saudi sendiri dipandang sebagai pihak yang memulai membudayakan ”sujud syukur di lapangan”, yakni pada 1994 di, di saat mereka menjadi peserta di pertandingan piala dunia di Amerika.

Disamping menyampaikan pandangannya dalam masalah sujud, Salman Audah juga menjelaskan bahwa prilaku pemain yang disengaja untuk menipu wasit, guna memperoleh kesempatan tendangan pinalti atau hal lain yang menguntungan juga tidak diperbolehkan.”Itu adalah perbuatan yang dilarang, karena termasuk menipu dan berbuat curang,” jawab Audah.

Ia juga menyampaikan bahwa dibolehkan ikut serta menjadi suporter sepak bola di tribun, karena hal itu termasuk perkara mubah. Akan tetapi, beliau mengingatkan agar sifat fanatisme terhadap club oleh raga dihilangkan, hingga tidak menimbulkan pertikaian antara pendukung.

Mengenai bolehnya menjadi suporter, keadaan Saudi memang berbeda dengan dengan kondisi di negara lain, dimana di negeri ini semua suporter adalah laki-laki, sehingga ikhtilath dengan lawan jenis tidak ditemui, apalagi pertandingan biasanya diselenggarakan di malam hari, hingga tidak mengganggu waktu shalat. [tho/Iol/www.hidayatullah.com]

Sumber: Hidayatulah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s