Cara Bersemangat dan Berpikir Positif

Assalamu’alaykum Wr. Wb.

Kepada Yth. Bapak Ustadz pengasuh rubrik konsultasi eramuslim, aaya seorang mahasiswa di Bandung, pada saat akhir tahun ke-2 kuliah (semester 5), saya terpaksa meninggalkan kuliah karena ada masalah keluarga, juga karena ada masalah lain.

Saat ini setelah dua tahun berlalu alhamdulillah masalah-masalah tersebut sudah selesai dan saya pun berniat untuk melanjutkan kuliah kembali karena masih terdaftar di sebuah PTN. Namun ternyata ketika kembali memasuki aktivitas kuliah, saya justru malah mengalami tekanan mental dari diri sendiri. Entah kenapa saya merasa minder dan rendah diri, malu pada teman-teman dan keluarga, karena saya melihat teman-teman seangkatan sebagian sudah banyak yang lulus dan juga bekerja. Saya jadi merasa gagal, malu karena tertinggal jauh dari teman-teman. Saya jadi malas, apatis, dan lemah semangat, terasa sulit sekali untuk membangitkan motivasi lagi sehingga niat untuk meneruskan kuliah pun jadi terasa malas dan terasa menjadi beban.

Baca lebih lanjut

“Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah”

Mengapa setiap 21 April kita memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan? Baca Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-269

Oleh: Adian Husaini

Ada yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS-Republika) edisi 9 April 2009 lalu. Dari empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama tentang Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar tentang Kartini. Judulnya: “Mengapa Harus Kartini?”

Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia ini mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Menyongsong tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut. Tentu saja, pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali dilontarkan sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik ‘pengkultusan’ R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Baca lebih lanjut