Tulisan “Allah” dalam Potongan Daging

Keluarga Rashadah Abdul Rani yang tinggal di Kampung Alur Gunung, Malaysia menjadi pusat perhatian penduduk sedesanya. Keluarga itu menyaksikan sebuah fenomena yang menarik berupa tulisan berlafaz “Allah” yang ditemukan dalam potongan daging yang dibeli anak lelakinya di sebuah pasar lokal.

Rashadah, ibu rumah tangga berusia 57 tahun itu menceritakan, anak perempuannya-lah yang pertama kali menemukan adanya tulisan berlafaz “Allah” dalam potongan daging itu. “Saya membagi daging itu menjadi enam potong dan merebusnya dalam air. Anak perempuan saya membantu saya ikut membantu memasak di dapur dan dia-lah yang melihat tulisan ‘Allah’ di semua potongan daging itu,” kata Rashadah para wartawan yang mengunjunginya di Kampung Alur Gunung.

Baca lebih lanjut

Aroma Kematian di Chek Point

Pos-pos keamanan Israel menjadi momok bagi perempuan hamil. Banyak yang melahirkan, lalu meninggal

Hidayatullah.com–Pos kemanan Israel mencegat ibu-ibu hamil yang hendak pergi ke rumah sakit untuk persalinan. Akibatnya, banyak dari mereka yang melahirkan tanpa pertolongan medis. Korban dari kalangan wanita dan bayi pun berjatuhan

“Kami mengatakan kepada tentara-tentara itu, bahwa saya harus pergi ke rumah sakit dengan segera, karena saya akan melahirkan,” ucap Misuk Hayik (23) ketika sampai di pos pemeriksaan yang dijaga oleh tentara Israel.

Pada awalnya mereka menolak, lalu menyuruh Misuk membuka perutnya, hingga mereka yakin bahwa misuk benar-benar hamil. “Setelah pemeriksaan itu,” cerita Misuk, “satu jam kemudian mereka membolehkan kami melewati pos pemeriksaan. Maka mobil yang kami tumpangi bergerak. Akan tetapi setelah berjalan beberapa ratus meter, saya mendengar letusan senjata, dan percikan api terlihat dari depan mobil, dan mobil yang kami tumpangi tiba-tiba berhenti.”

Misuk melihat luka dibagian tas tubuh suaminya yang duduk di kursi kemudi. Ayahnya yang duduk disamping suaminya juga diterjang peluru di tubuh bagian atasnya.

Baca lebih lanjut

Disiksa dan Diperkosa Tentara Israel

Keadaan wanita-wanita Palestina di penjara Israel, sangat memprihatinkan. Berbagai macam siksaan fisik dan mental mereka rasakan

Hidayatullah.com–Melahirkan dengan tangan dan kaki diborgol. Tentu saja sangat merepotkan. Itulah yang dialami Amimah Al Agha, seorang wanita Palestina. Ia ditangkap Israel, lalu dijebloskan ke penjara Al Majdal.

Amimah awalnya tak tahu bahwa dirinya hamil. Tiba-tiba ia merasa perutnya mules. “Saya lalu memeriksakan diri ke rumah sakit di penjara,” kata Amimah.

Saat kontrol itu, tangan dan kaki Amimah dalam keadaan diborgol. Dan itu berlangsung hingga menjelang detik-detik kelahiran. Dokter yang membantu persalinannya meminta agar borgolnya dilepas, tetapi petugas penjara melarangnya. Terjadilah perdebatan di antara keduanya. “Akhirnya, borgol di kaki saya dilepas, sedangkan tangan saya tetap terikat di tempat persalinan,” tutur Amimah.

Wanita yang sedang bertaruh nyawa ini melahirkan tanpa ditemani oleh siapapun, dan petugas penjara tidak mengizinkannya menyampaikan berita kelahiran ini kepada keluarga.

Setelah melewati banyak kesusahan,  lahirlah seorang bayi perempuan. Undang-undang yang berlaku di Israel melarang anak perempuan itu keluar penjara dan hidup di lingkungan normal, sehingga selama 2 tahun bayi itu menjalani hidup bersama Amimah di penjara.

Baca lebih lanjut

Wanita-Wanita Istimewa dari Palestina

Penjajahan Israel terhadap Palestina telah menyebabkan penderitaan.  Dengan “restu” dunia internasional, Israel bebas melakukan apa saja yang mereka kehendaki terhadap rakyat Palestina. Isreal bisa menangkap mereka sewaktu-waktu dengan alasan yang tidak jelas. Disamping itu, perkosaan dan penyiksaan wanita-wanita Palestina di penjara Israel juga tidak sepi dari pemberitaan.

Tidak  cukup sampai di situ, negeri Zionis itu juga bebas melakukan pembunuhan terhadap wanita-wanita Palestina. Peristiwa pembunuhan itu bisa saja terjadi saat mereka berada di rumah, lalu Israel meledakkan rumah tersebut. Atau ketika mereka melakukan perjalanan, bahkan beberapa remaja wanita tewas saat mereka duduk di bangku sekolah.

Lebih dari itu, Israel juga membunuh wanita-wanita Palestina dengan berlahan-lahan. Lewat pos-pos penjagaan mereka, pasukan Israel  melarang wanita-wanita sakit dan hamil untuk mendapat pertolongan medis. Mereka terpaksa “menunggu maut” menjemput. Bayi-bayi mungil yang tidak tahu apa-apa juga menjadi korbannya, banyak yang meninggal di pos-pos penjagaan, karena mereka harus dilahirkan tanpa pertolongan medis.

Tapi, penderitaan itu semua membuat rakyat palestina berhenti berjuang? Tidak. Perjuangan rakyat Palestina terus berlangsung hingga sekarang.

Nah, Ihwal kali ini menyajikan penderitaan yang dialami wanita-wanita Palestina. Semoga sajian kami ini menyentuh kita semua, sehingga kita tak pernah bosan memberi dukungan kepada rakyat Palestina. Semoga bermanfaat. [Thoriq/www.hidayatullah.com]

Cholis Akbar

Sumber: Hidayatullah.com

Seandainya Matius Swift dan Ross McKnight Muslim?

Ini mungkin pembebasan tercepat yang pernah dalam sebuah pengadilan untuk ‘teroris’. Tuduhan terhadap dua remaja di Manchester Crown Court dibatalkan oleh juri dalam waktu kurang dari satu jam. Sang pengacara, Roderick Carus, berpendapat bahwa kasus ini lebih berkaitan dengan “kesembronoan anak muda.”

Matius Swift (18) dan Ross McKnight (16), dua orang yang telah lama bersahabat, bebas dari tuduhan konspirasi pembunuhan dan persekongkolan peledakan. Rencana mereka meledakkan sebuah pusat perbelanjaan hanya dianggap sebagai fantasi anak sekolah belaka. Seluruh juri yang terdiri dari tujuh perempuan dan lima laki-laki bahkan dilaporkan menunggu di luar pengadilan untuk menyappa para terdakwa saat mereka pergi.

Juga tidak ada pembicaraan tentang pengadilan ulang seperti yang terjadi dalam kasus-kasus teroris lainnya. Kejaksaan percaya itu cukup bukti untuk membenarkan keyakinan yang ada. Asisten Kepala Polisi, Terry Sweeney, yang bertanggung jawab atas peradilan pidana di Greater Manchester Police, membela keputusan itu. “Ini adalah hak juri untuk memutuskan apakah ada cukup bukti ataukah tidak,” katanya. “Kita di negara ini sudah sangat khawatir tentang keamanan dan kita sendiri memang demikian, jika tidak IRA, itu ekstremis Muslim dan sebagainya. Kita tidak boleh mengutuk anak muda kita karena mereka memiliki fantasi.”

Banyak Muslim telah mengajukan pertanyaan, bagaimana kalau anak-anak muda yang Muslim? Mereka sangat mungkin akan ditangkap, dituntut dan dihukum di bawah undang-undang terorisme. Nah, bagaimana jika Matius Swift dan Ross McKnight adalah Muslim? Adakah sama pengadilannya? (sa/muslimnews)

Sumber: eramuslim

Jangan Berbuka Puasa Dengan Yang Manis

Oleh Herry Mardian

SEBENTAR lagi Ramadhan. Di bulan puasa itu, sering kita dengar kalimat ‘Berbuka puasalah dengan makanan atau minuman yang manis,’ katanya. Konon, itu dicontohkan Rasulullah saw. Benarkah demikian?

Dari Anas bin Malik ia berkata : “Adalah Rasulullah berbuka dengan Rutab (kurma yang lembek) sebelum shalat, jika tidak terdapat Rutab, maka beliau berbuka dengan Tamr (kurma kering), maka jika tidak ada kurma kering beliau meneguk air. (Hadits riwayat Ahmad dan Abu Dawud)

Nabi Muhammad Saw berkata : “Apabila berbuka salah satu kamu, maka hendaklah berbuka dengan kurma. Andaikan kamu tidak memperolehnya, maka berbukalah dengan air, maka sesungguhnya air itu suci.”

Nah. Rasulullah berbuka dengan kurma. Kalau tidak mendapat kurma, beliau berbuka puasa dengan air. Samakah kurma dengan ‘yang manis-manis’? Tidak. Kurma, adalah karbohidrat kompleks (complex carbohydrate). Sebaliknya, gula yang terdapat dalam makanan atau minuman yang manis-manis yang biasa kita konsumsi sebagai makanan berbuka puasa, adalah karbohidrat sederhana (simple carbohydrate).

Darimana asalnya sebuah kebiasaan berbuka dengan yang manis? Tidak jelas. Malah berkembang jadi waham umum di masyarakat, seakan-akan berbuka puasa dengan makanan atau minuman yang manis adalah ’sunnah Nabi’. Sebenarnya tidak demikian. Bahkan sebenarnya berbuka puasa dengan makanan manis-manis yang penuh dengan gula (karbohidrat sederhana) justru merusak kesehatan.

Baca lebih lanjut

Telah Hadir: Search Engine Syariah

Pemikiran Reza cukup maju. Ia berencana membangun produk-produk IT lainnya untuk kebutuhan muslim.Mulai kemarin (1/9/09) umat Islam seluruh dunia dapat searching di internet secara aman tanpa menemukan konten internet yang “Haram” menurut syariat Islam. Mesin pencari, ImHalal.com hanya akan mengambil hasil pencarian yang ditandai sebagai “halal”.

“Tujuan utama kami adalah untuk menjadi nomor satu situs web di setiap Muslim di rumah,” Reza Sardeha, pendiri ImHalal.com, kepada The Media Line.

Sementara penggunaan internet meningkat dengan cepat di Timur Tengah dan Afrika Utara selama beberapa tahun terakhir, banyak pengguna potensial yang kini telah menjauh karena konten yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Mesin pencari itu tidak akan memberikan hasil yang dianggap haram, dilarang, dan hanya menunjukkan permintaan hasil yang halal, disetujui, di bawah hukum agama Islam.

Mesin pencari ini menggunakan berbagai teknik untuk menentukan hasil pencarian yang mana yang seharusnya dikeluarkan “halal” atau “haram”. Sekali pengguna memasukan keyword dengan konten yang eksplisit mengarah ke konten “haram”, maka mesin pencari ini akan kembali dengan sebuah pesan negatif yang berbunyi “Oops! Your search inquiry has a Haram level of 3 out of 3! I would like to advise you to change your search terms and try again.”

Baca lebih lanjut