Telkom Luncurkan Server Saringan Situs

JAKARTA–PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) meluncurkan program penyediaan internet sehat melalui penyediaan Mirror DNS (domain name server) Nawala. DNS Nawala ini bisa digunakan oleh pengguna internet di seluruh Indonesia secara gratis.

Direktur Utama PT Telkom, Rinaldi Firmansyah menyatakan DNS Nawala  ini dibuat untuk mendukung penyelenggaraan program internet sehat yang dicanangkan bersama antara Menteri Negara Komunikasi dan Informatika, PT Telkom, dan Asosiasi Warung Internet Indonesia (AWARI). ”Tidak dipungkiri bahwa kemajuan teknologi juga sarat dengan pengaruh negatif,” katanya dalam sambutan peluncuran yang dibacakan Direktur Network Telkom, Ermady Dahlan, di Jakarta, Selasa (17/11).

Sebagai Internet service provider terbesar di Indonesia, lanjut Rinaldi, Telkom sangat peduli dan mendukung terhadap program internet sehat yang dicanangkan Menkominfo. ”Demi peningkatan kualitas generasi muda dan sebagai bagian dari program CSR, Telkom menyediakan DNS Nawala yang dapat menyeleksi konten internet,” ujarnya.

Ermady menambahkan DNS Nawala ini dapat digunakan secara gratis oleh pengguna internet di seluruh Indonesia yang membutuhkan konten terseleksi. Secara khusus DNS Nawal akan mengurangi konten negatif yang tidak sesuai dengan peraturan perundangan, nilai agama, norma sosial, adat istiadat dan kesusilaan bangsa Indonesia seperti pornografi dan perjudian.

Baca lebih lanjut

Telah Hadir: Search Engine Syariah

Pemikiran Reza cukup maju. Ia berencana membangun produk-produk IT lainnya untuk kebutuhan muslim.Mulai kemarin (1/9/09) umat Islam seluruh dunia dapat searching di internet secara aman tanpa menemukan konten internet yang “Haram” menurut syariat Islam. Mesin pencari, ImHalal.com hanya akan mengambil hasil pencarian yang ditandai sebagai “halal”.

“Tujuan utama kami adalah untuk menjadi nomor satu situs web di setiap Muslim di rumah,” Reza Sardeha, pendiri ImHalal.com, kepada The Media Line.

Sementara penggunaan internet meningkat dengan cepat di Timur Tengah dan Afrika Utara selama beberapa tahun terakhir, banyak pengguna potensial yang kini telah menjauh karena konten yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Mesin pencari itu tidak akan memberikan hasil yang dianggap haram, dilarang, dan hanya menunjukkan permintaan hasil yang halal, disetujui, di bawah hukum agama Islam.

Mesin pencari ini menggunakan berbagai teknik untuk menentukan hasil pencarian yang mana yang seharusnya dikeluarkan “halal” atau “haram”. Sekali pengguna memasukan keyword dengan konten yang eksplisit mengarah ke konten “haram”, maka mesin pencari ini akan kembali dengan sebuah pesan negatif yang berbunyi “Oops! Your search inquiry has a Haram level of 3 out of 3! I would like to advise you to change your search terms and try again.”

Baca lebih lanjut