MUI Sumenep Kejar Penyebar Buku Lecehkan Islam

Gerbang Masjid Agung Sumenep

SUMENEP–Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumenep, Madura, Jawa Timur, berencana melakukan koordinasi dengan polisi terkait penyebaran buku dan video compact disk (VCD) yang melecehkan ajaran Islam di wilayah tersebut. Ketua MUI Sumenep, KH A Shafraji menjelaskan, Jumat, pihaknya telah menerima laporan dari Pengurus MUI Kecamatan Pasongsongan tentang adanya penyebaran buku dan VCD yang melecehkan ajaran Islam di dua desa, yakni Desa Soddara dan Panaongan.

“Kami sudah mempelajari buku dan rekaman VCD tersebut dan isinya memang melecehkan ajaran Islam. Karena itu, kami akan secepatnya berkoordinasi dengan pimpinan Polres Sumenep,” tuturnya di Sumenep. Fokus koordinasi dengan polisi dijalankannya untuk mencegah hal-hal tak diinginkan sebagai dampak penyebaran buku dan VCD tersebut.

Isi buku dan rekaman VCD itu, dipastikannya, sangat menghina ajaran dan ibadah Islam dan sangat berpeluang membuat marah umat Islam. Saat ini, warga Sumenep bagian utara resah akibat peredaran buku dan VCD tersebut. Kiai Shafraji mengaku prihatin atas masih adanya orang tak bertanggung jawab yang menyebarkan buku dan VCD yang menghina ajaran agama tertentu.

Baca lebih lanjut

Melecehkan Al-Quran dan Islam Cuma Dipenjara Satu Tahun?

Pengadilan Amsterdam membuat lima dakwaan terhadap Geert Wilders, anggota parlemen Belanda dari kelompok sayap kiri pembuat film “Fitna” yang menghina Islam dan Al-Quran.

Tim penuntut pengadilan Wilders mengatakan dakwaan yang akan mereka ajukan untuk menyeret Wilders ke penjara sudah final dan akan diajukan dalam persidangan minggu depan. Wilders antara lain dikenakan tuduhan telah melakukan penghinaan agama dan melontarkan pernyataan anti-Muslim.

Seperti diketahui, selain melecehkan Al-Quran dalam filmnya yang berjudul “Fitna”. Wilders yang dikenal anti-Islam kerap melontarkan pernyataan kebenciannya terhadap Islam dan Muslim. Wilders misalnya pernah menyebut Islam sebagai agama fasis, menyerukan pelarangan kitab suci Al-Quran di Belanda dan menyebut Al-Quran sebagai kitab yang mirip buku Mein Kampf yang ditulis tokoh Nazi Jerman, Adolf Hitler.

Baca lebih lanjut

Permen Manis Bernama Dialog Antaragama

Tanpa kesalingpahaman antarpara pemeluk agama, tanpa  dukungan dan ketegasan para pemimpin negara masing-masing, dialog apapun hanya sia-sia

Oleh : Elvan Syaputra*

Baru-baru ini, Negara Swiss menetapkan hasil referendum yang menolak simbol menara masjid berdiri di negeri itu. Peristiwa maraknya kasus penolakan atas simbol-simbol agama dalam sebuah Negara merupakan wacana kontemporer umat beragama, khususnya ummat Islam saat ini. Pelarangan menara masjid  oleh pemerintahan Swiss merupakan tombak dari terpecahnya kerukunan umat beragama dan icon kebebasan yang selama ini amat dijunjung dan disanjung-sanjung di negeri Barat dan Eropa.

Kebebasan dan Hal Asasi Manusia (HAM) –yang selama ini amat disakralkan Barat—dalam perjalanannya tak sesakral saat dipraktikkan. Dengan alasan pelarangan,  pemerintah Swiss  mengharuskan masyarakat Muslim bersinergi dengan budaya setempat. Di Jerman, Prancis, dan Belanda, kaum Muslim diharapkan berintegrasi. Tidak menonjolkan identitas agama. Hal ini sesungguhnya lebih bernuansa  memojokan umat Muslim.

Konferensi para pemuka agama yang diprakarsai Communita Saint di Egidio, 21-24 Oktober di Napoli, membicarakan banyak tentang keharmonisan dan kerukunan antarumat beragama. Akan tetapi konferensi yang menghadirkan 400 tokoh agama ini tidak sepakat kepada sebuah keputusan yang dapat diterima oleh semua lapisan agama, khususnya agama Islam, yang menjadi sorotan dan fokus utama dalam perkumpulan pemuka agama tersebut. Pemecahan masalah yang diprakarsai oleh pemuka agama lebih condong kepada jalur kerukunan dan jalur kesepahaman saja. Tidak terdapat ketegasan yang final dalam menentukan apa yang harusnya dibatasi dan apa yang harusnya didukung oleh kalangan agamawan, baik praktisi maupun yang sifatnya universal.

Baca lebih lanjut