“Islam Progresif” dan Seks Bebas

Akibat logis konsep dekonstruksi kitab suci, bukan aneh dukungan kaum liberal terhadap praktik seks bebas. Baca CAP Adian ke-276

Oleh: Dr. Adian Husaini*

Di antara pegiat “Islam Progresif”, atau “Islam Liberal”, nama Sumanto Al Qurtuby memang sudah bukan asing lagi. Alumnus Fakultas Syariah IAIN Semarang ini terkenal dengan ide-ide liberalnya yang sangat berani. Di sebuah Jurnal yang terbit di Fakultas Syariah IAIN Semarang, Justisia, ia pernah mengusulkan agar sejumlah ayat Al-Quran diamandemen. Belakangan, kaum liberal di Indonesia, semakin terbuka melontarkan wacana perlunya proses ”Desakralisasi Al-Quran”.

Meskipun sudah terbiasa membaca berbagai pendapat liberal dan progresif yang aneh-aneh, tetapi  saya tetap terbelalak dan nyaris tak percaya, ada sebuah tulisan yang secara terbuka mendukung praktik seks bebas, asal dilakukan suka sama suka, tanpa paksaan. Tulisan Sumanto itu berjudul ”Agama, Seks, dan Moral”, yang dimuat dalam sebuah buku berjudul Jihad Melawan Ekstrimis Agama, Membangkitkan Islam Progresif (terbit pertama Oktober 2009). Kita perlu ”berterimakasih” kepada Sumanto yang secara jujur dan terbuka melontarkan ide liberal dan progresif, sehingga lebih mudah  dipahami. Sebab, selama ini banyak yang mengemas ide ”Islam progresif” dan ”Islam liberal”  dengan berbagai kemasan indah dan menawan, sehingga berhasil menyesatkan banyak orang.

Baca lebih lanjut

Pencegahan HIV/AIDS Bukan dengan Kondom!

JAKARTA–Kebijakan penggunaan kondom dalam menanggulangi penyebaran human immuno virus (HIV) dan acquired immuno deficiency syndrom (AIDS), menuai reaksi penolakan. Pasalnya, hal tersebut justru dinilai akan mendorong perilaku seks bebas, terutama di kalangan generasi muda.

Ketua Umum Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Deni Wahyudi Kurniawan, mengatakan, pencegahan penularan virus itu seharusnya dilakukan melalui sex education. Dengan demikian, masyarakat, terutama generasi muda menjadi paham mengenai bahaya dari perilaku seks bebas. ”Jadi yang harus dikedepankan adalah sex education-nya, bukan penggunaan kondomnya,” tegas Deni kepada Republika, Senin (30/11).

Baca lebih lanjut