Tidak Pada Tempatnya Melecehkan Syiar Agama

Silahkan menolak fatwa, namun jika sudah melecehkan wibawa ulama, jelas itu melecehkan syiar Islam, ujar pakar syariah.

 Robin Max Marder/Illustration Works/CorbisHidayatullah.com — Ungkapan mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta yang dikutip media massa menyangkut fatwa rebonding terus mendapatkan tanggapan.

Pakar hukum syariah dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr Muinudinillah, MA mengatakan, kritikan putri proklamator itu tidak tepat dan bukan pada tempatnya. Menurut Muin, tugas ulama adalah memberikan penjelasan atau fatwa tentang hal-hal yang berurusan dengan ummat. Baik diminta atau tidak. Jika masyarakat umum, termasuk dirinya (Meutia Hatta, red) tidak tahu kapasitas dan tugas ulama, sebaiknya diminta menjaga diri. “Janganlah berbicara tanpa ilmu,” ujarnya kepada hidayatullah.com.

Pakar hukum Syariah lulusan Riyad ini menjelaskan, masyarakat sebaiknya mulai belajar menempatkan diri secara adil. Silahkan para ahli berkomentar sesuai ahlinya dan sesuai posisi masing-masing. Jika keluar dari koridor itu, bisa dianggap tak tahu diri.

“Seharusnya orang harus memahami posisi satu sama lainnya. Ulama ya bicara tentang hukum, syariat Allah, karena dia yang menjadi rujukan ilmu dalam hal ini,” kata Muin, dalam perbincangan dengan Hidayatullah.com, Rabu (20/01).

Baca lebih lanjut

Berbaik Sangka pada Ulama

Ulama itu pewaris Nabi. Jadi setiap fatwa yang diberikan pasti untuk maslahat. Bukan mengada-ada, sebagaimana tuduhan orang yang tak paham agama

Hidayatullah.com—Persoalan hukum agama dan masalah fatwa ulama, sering disalah mengerti masyarakat, khususnya masyarakat awam yang tak paham agama. Sekalipun umat Islam di Indonesia mayoritas, namun kadangkala menanggapi fatwa agama yang dikeluarkan ulama ditanggapi pro dan kontra. Meski demikian, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memaklumi masalah seperti ini.

Hanya saja, sebagai lembaga moral, MUI dan para ulama tetap harus mengeluarkan fatwa jika itu menyangkut masalah keumatan (umat Islam). Diterima atau tidak, itu soal lain, sebab tugas ulama menyampaikan kebenaran.

Pernyataan ini disampaikan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Dr. Mustafa Ya’kub, MA, Selasa (19/1) ketika diminta pandangannya atas pernyataan mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutya Hatta yang menganggap fatwa rebonding pada wanita sebagai perilaku kurang pekerjaan pihak ulama.

Sebelumnya, hari Senin (18/1) dikutip media, anak Proklamator RI menyatakan, langkah MUI yang akan mengeluarkan fatwa rebonding sebagai langkah kurang kerjaan. Ia menilai, banyak hal lain yang perlu dipikirkan bersama, bukan dengan mengharamkan hal-hal yang ada di tengah masyarakat.

Baca lebih lanjut