Habib Rizieq: Semestinya Umat Islam Saling Menguatkan

Hari ini terjadi peralihan beberapa sasaran atas dunia Islam. Sekarang targetnya bukan menyerang umat Islam, tapi mengadu domba umat Islam satu dengan yang lainnya. Melahirkan perpecahan, yang semestinya bisa kita hindarkan.

Musuh-musuh Islam memanfaatkan segala cara dan kemampuan mereka. Mereka menggunakan kekuatan finansial, mereka berusaha membeli kelompok-kelompok yang memang bisa dibeli dan dijadikan kaki tangan serta antek-antek musuh Islam. Kemudian mereka dijadikan sebagai bumper untuk berhadapan dengan sesama kaum Muslimin.
Kelompok yang bisa dibeli ini dijadikan sebagai ujung tombak untuk menghadapi para mujahidin. Itulah yang terjadi di wilayah seperti Pakistan. Kelompok Taliban disebut menyerang yang anti Taliban. Kelompok yang anti Taliban disebut menolak yang Taliban. Semua sedang diadu-domba.

Kenapa ada gerakan Islam di Irak, Afghanistan dan juga Pakistan yang memusuhi kepala negaranya? Karena dimata orang-orang yang dipimpin, mereka adalah pemimpin boneka. Terminologi boneka ini sengaja diciptakan oleh kekuatan imperialisme, dan akhirnya mereka yang diuntungkan tanpa harus mengeluarkan pengorbanan.

Umat Islam harus menemukan cara untuk keluar dari situasi adu domba ini. Perbedaan itu wajar, no problem. Ada yang mau berdakwah dengan lembut, silakan. Ada yang dengan hisbah dan tegas, tak ada masalah. Ada juga yang berjihad dengan keras, tidak ada apa-apa. Tapi banyaknya metode itu, seharusnya disatukan dengan syariah. Tidak ada yang boleh melanggar syariah.

Baca lebih lanjut

Wajibkah MUI Mencabut Fatwa Haramnya Pluralisme?

Pluralisme kembali menjadi perbincangan. Semua media cetak menjadikan pluralisme sebagai berita utama. Pluralisme kembali mencuat terutama setelah Presiden SBY memberikan gelar Gus Dur sebagai “Bapak Pluralisme” yang patut menjadi teladan seluruh bangsa.

Kalangan liberal, salah seorang tokoh aktivisnya, Zuhairi Misrawi, menulis bahwa dalam rangka memberikan penghormatan terhadap Gus Dur sebagaimana dilakukan oleh Presiden SBY akan sangat baik jika MUI mencabut kembali fatwa pengharaman terhadap pluralisme.

Pertanyaannya, bagaimana dengan MUI sendiri yang dalam fatwanya No.7/MUNAS VII/MUI/11/2005 telah dengan jelas-jelas menyebutkan bahwa sekulerisme, pluralisme, dan liberalisme ( sipilis) adalah paham yang bertentangan dengan ajaran agama Islam, dan umat Islam haram mengikuti paham tersebut? Lebih penting lagi, bagaimana sesungguhnya pluralisme menurut pandangan Islam?

Baca lebih lanjut