Maryam Jameela, Masuk Islam Usai Diterpa Propaganda Yahudi

Dunia mengenal tokoh yang satu ini sebagai seorang intelektual serta penulis ternama di bidang agama, filsafat, maupun sejarah. Maryam Jameela, demikian nama muslimnya. Ia telah menghasilkan sejumlah karya yang cukup penting dalam khazanah pemikiran Islam, antara lain Islam and Western Society: A Refutation of the Modern Way of Life, Islam and Orientalis,  Islam in Theory and Practice, dan ‘Islam and the Muslim Woman Today’.

Salah satu hal yang patut dicatat dari tulisan-tulisan serta pemikiran Maryam Jameela, adalah keyakinannya terhadap agama Islam yang dinilainya sebagai agama terbaik. Islam merupakan agama dengan keunggulan paripurna, sehingga merupakan satu-satunya jalan untuk menuju kehidupan lebih baik, baik di dunia maupun akhirat.

Melalui karyanya, Maryam ingin menyebarkan keyakinannya itu kepada segenap umat Muslim di seluruh dunia. Harapannya adalah agar umat semakin percaya diri untuk dapat mendayagunakan keunggulan-keunggulan agama Islam tersebut demi meraih kejayaan di berbagai bidang kehidupan.

Sikap dan pemikiran yang ‘trengginas’ itu tampaknya tak bisa dilepaskan dari latar belakang kehidupan cendekiawan ini. Sejatinya, wanita kelahiran 23 Mei 1934 tersebut adalah seorang Yahudi. Keislamannya berlangsung ketika masih berusia remaja.

Ia menyandang nama Margareth Marcus sebelum memeluk Islam. Berasal dari keluarga Yahudi, Margareth dibesarkan dalam lingkungan yang multietnis di New York, Amerika Serikat. Nenek moyangnya berkebangsaan Jerman. “Keluarga kami telah tinggal di Jerman selama empat generasi dan kemudian berasimilasi ke Amerika,” papar Maryam, dalam buku Islam and Orientalism .

Baca lebih lanjut

Ban Ki-Moon :Blokade Israel Jadikan Kondisi Gaza Buruk Sekali

Dome of Rock

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Ban Ki-moon, menemui Menteri Perang Israel, Ehud Barak, di New York, Rabu (24/2). Menurut keterangan Kantor Sekjen PBB, pertemuan tersebut bebeda dengan berbagai pertemuan sebelumnya.

Kali ini Ban menunjukkan sikap yang cukup tegas kepada Menteri Perang Israel itu.

“Kondisi Jalur Gaza tidak dapat ditolerir,” kata Ban mengomentari buruknya kondisi warga Gaza akibat berlanjutnya blokade Israel. Ban juga sangat menyayangkan upaya Israel untuk memasukkan dua tempat ziarah di Tepi Barat dalam list peninggalan bersejarah Israel. Menurutnya, Israel harus mengambil langkah positif menyangkut Jalur Gaza paling tidak memperbolehkan masuknya suplai bahan bangunan untuk kawasan yang porak-poranda akibat serangan Israel.

Tidak hanya itu, Ban menuntut Israel melaksanakan resolusi nomor 1701 dan segera keluar dari seluruh wilayah Lebanon.

Ban mengkritik pelanggaran repetitif pesawat-pesawat tempur rezim Zionis Israel terhadap zona udara Lebanon. Tanpa menyebut secara langsung ancaman Israel terhadap Iran dan negara-negara di kawasan, Ban mengatakan, “Ancaman-ancaman tersebut sangat mengkhawatirkan dan penggunaan kata-kata seperti ini dapat menyulut gejolak regional.(Irb/sbl)

Sumber: Cyber Sabili