Kisah Pecandu dan Mujahidin

Kajian agama inilah yang akhirnya menguatkan saya. Bagaimana tidak, selama saya dipenjara, saya tertimpa masalah lainnya. Istri yang harusnya menjadi penjaga harta suaminya dan keluarga, ternyata menikah lagi. Seorang pecandu ganja, akhirnya menemukan jalan terang setelah bertemu dengan mujahidin di dalam penjara.

Panggil saja saya Asep (bukan nama sebenarnya, red). Saya mantan pecandu ganja. Saya pernah terjerumus sebagai pengguna dan bandar ganja. Saya sudah menggunakan ganja sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) sekitar tahun 1981.

Saya menggunakan ganja karena tersesat di dalam pergaulan, bukan karena frustasi atau putus cinta. Saat itu, ganja sudah menjadi life style buat saya. Awalnya  saya menghisap ganja hanya sekadar ingin tahu bagaimana rasanya. Tapi ternyata, saya lama-lama jadi ketagihan. Tidak terasa, saya ketagihan sampai usia saya 30 tahun dan masuk penjara.

Pada mulanya ganja saya dapatkan dengan gratis. Kemudian, setelah ketagihan, saya jadi sering beli. Apalagi teman-teman saya juga banyak yang menjadi “setan”. Mereka selalu mempengaruhi saya untuk terus mengkonsumsi ganja.

Waktu saya SMP dulu, ganja masih terbilang sangat murah, karena masih terjangkau dengan uang jajan saya. Kalau saya ada uang, pasti akan beli. Harganya dulu sekitar lima ratus rupiah saja. Namun kalau sedang tidak punya uang jajan dan kepepet karena sudah sakaw, kadang uang untuk bayaran sekolah pun saya pakai untuk membeli ganja.

Baca lebih lanjut