Napoleon Bonaparte Seorang Muslim

408px-1801_antoine-jean_gros_-_bonaparte_on_the_bridge_at_arcole_204_300Kita sudah banyak mendengar atau membaca tentang nama-nama besar yang menjadi Muslim; mulai dari Laksamana Cheng Ho dari China hingga penyanyi Cat Stevens dari Inggris, yang menjadi Yusuf Islam. Baru-baru ini kita juga mendengar Michael Jackson menjadi Muslim. Di dunia olah raga, diawali petinju Mohammad Ali, disusul Mike Tyson; dan kini para atlet sepak bola Eropah serta atlet basket AS, berduyun-duyun memeluk Islam. Biasanya mereka menjadi Islam setelah melihat contoh perilaku dan gaya hidup rekan mereka yang Muslim.

Saya baru saja membaca sebuah artikel yang menjelaskan bahwa Napoleon Bonaparte memeluk Islam. Tentu saja kisah semacam ini tidak ada di buku sejarah mainstream atau di film-film buatan Hollywood. Biasanya Napoleon digambarkan sebagai komandan perang yang gagah berani. Dia juga dikenal karena ucapannya: “Saya lebih takut pada seorang wartawan daripada seratus moncong meriam.”

Bagi Napoleon Bonaparte, jenderal yang strategi perangnya menjadi pegangan para komandan hingga saat ini, Islam memberinya jawaban atas persoalan-persoalan yang dihadapinya di masa itu. Dalam buku Satanic Verses – Ancient and Modern, karya David M. Pidcock (1992), dikisahkan proses Napoleon menjadi Islam. Buku ini mengutip suratkabar resmi Perancis pada masa itu, Le Moniteur, yang memberitakan masuknya Napoleon ke dalam Islam (1798). Dalam berita itu disebutkan pula nama Islam Napoleon, yaitu Aly (Ali) Napoleon Bonaparte. Ini dilakukan ketika Napoleon menginvasi Mesir dan tinggal di negeri itu selama beberapa waktu.

Tak berhenti di situ, Napoleon juga meng-Islam-kan salah seorang jendralnya, Jacques Menou, yang kemudian berganti nama menjadi Jendral Abdullah-Jacques Menou. Jendral Menou menikahi Sitti Zoubeida, putri Mesir yang memiliki darah keturunan Nabi Muhammad SAW.

Baca lebih lanjut