Menag: Gagalkan Gugatan Kebebasan Beragama di MK


printSend to friend

MEDAN–Menteri Agama Suryadharma Ali mengajak seluruh ormas Islam dan komponen Islam serta seluruh umat beragama untuk bersama-sama menjadi satu kekuatan menggagalkan gugatan sekelompok massa terhadap kebebasan beragama. ”Dengan dukungan dari semua pihak, saya merasa makin kuat dan makin tegar untuk menggagalkan sekelompok orang atau LSM yang menggugat kebebasan beragama ke MK,” tegas Menag dalam pengarahan dan pembekalan terhadap jajaran kementerian agama di wilayah Kanwil Sumatera Utara dan sejumlah pimpinan Perguruan Tinggi serta Ormas Islam di Medan, Jumat (29/1).

Dijelaskan Menag bahwa agama yang diakui di Indonesia ini ada enam. Yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghuchu. ”Pengakuan terhadap enam agama ini dianggap diskriminatif, kemudian UU no 1 PNPS tahun 1965 dihadap-hadapkan dengan UUD pasal 28 E soal kebebasan oleh sekelompok orang ini,” tegas Menag. ”Ini sangat berbahaya,” tambahnya.

Diakui Menag bahwa saat ini pihaknya bersama Menkum HAM tengah menyiapkan argumen-argumen hukum yang tepat untuk menggugurkan dalil-dalil yang digunakan sekelompok orang dalam menggugat kebebasan beragama.

”Menteri agama dan Menkum HAM menjadi kuasa pemerintah terhadap gugatan sekelompok orang ke MK soal kebebasan beragama. Saya minta bantuan pada PBNU dan seluruh ormas lainnya dan komponen Islam untuk menghadapi gugatan ini bersama-sama,” tegas Menag.

Baca lebih lanjut

Menag: Pesantren adalah Benteng Umat Islam

Menteri Agama Suryadharma Ali

SERANG–Menteri Agama Suryadharma Ali menegaskan bahwa sistem pendidikan di pondok pesantren adalah sistem pendidikan yang sangat bagus. ”Ponpes adalah bentengnya umat Islam. Pondok pesantren adalah bentengnya ajaran Islam,” tegas Menag dalam sambutannya pada Milad ke-42 Pondok Pesantren Daar El Qolam, Serang, Rabu (20/1).

Menag berharap bahwa alumni-alumni pesantren yang nantinya bisa menjadi pemimpin. ”Tampil sebagai pemimpin untuk membina ahlak dan ketaqwaan umat serta mencegah segala bentuk kemungkaran,” papar Menag.

Dikatakan Menag bahwa tantangan umat Islam ke depan semakin berat. ”Karena sekarang muncul idealisme kebebasan, idealisme berdasarkan hak-hak asasi. Namun berupa demokrasi yang kelewat batas,” kata Menag. Ia mencontohkan adanya sekelompok orang, LSM dan pribadi yang menggugat ke MA untuk kebebasan beragama dan mengamalkan agamanya yang berupa agama baru,” tutur Menag.

Ditegaskan Menag, mengantisipasi hal-hal semacam itu merupakan salah satu tugas para santri dan alumni pesantren.

Sumber: Republika Online