Berbaik Sangka pada Ulama

Ulama itu pewaris Nabi. Jadi setiap fatwa yang diberikan pasti untuk maslahat. Bukan mengada-ada, sebagaimana tuduhan orang yang tak paham agama

Hidayatullah.com—Persoalan hukum agama dan masalah fatwa ulama, sering disalah mengerti masyarakat, khususnya masyarakat awam yang tak paham agama. Sekalipun umat Islam di Indonesia mayoritas, namun kadangkala menanggapi fatwa agama yang dikeluarkan ulama ditanggapi pro dan kontra. Meski demikian, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memaklumi masalah seperti ini.

Hanya saja, sebagai lembaga moral, MUI dan para ulama tetap harus mengeluarkan fatwa jika itu menyangkut masalah keumatan (umat Islam). Diterima atau tidak, itu soal lain, sebab tugas ulama menyampaikan kebenaran.

Pernyataan ini disampaikan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Dr. Mustafa Ya’kub, MA, Selasa (19/1) ketika diminta pandangannya atas pernyataan mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutya Hatta yang menganggap fatwa rebonding pada wanita sebagai perilaku kurang pekerjaan pihak ulama.

Sebelumnya, hari Senin (18/1) dikutip media, anak Proklamator RI menyatakan, langkah MUI yang akan mengeluarkan fatwa rebonding sebagai langkah kurang kerjaan. Ia menilai, banyak hal lain yang perlu dipikirkan bersama, bukan dengan mengharamkan hal-hal yang ada di tengah masyarakat.

Baca lebih lanjut

Fatwa Al-Azhar Tentang Hukum Memelihara Jenggot dan Meninggikan Ujung Celana

Pertanyaan

Akhir-akhir ini banyak bermunculan kelompok yang mewajibkan orang-orang atau pengikutnya untuk memelihara jenggot dan mengharamkan untuk mencukurnya. Mereka juga mengharuskan pengikutnya untuk meninggikan ujung celana dari mata kaki. Apa pendapat Yang Mulia Mufti mengenai hukum memelihara jenggot dan meninggikan ujung celana ini?

Jawaban Mufti Agung Prof. Dr. Ali Jum’ah Muhammad

Baca lebih lanjut

Kornet Daging Kurban, Bolehkah?

FATWA


Dyah Ratna Meta NoviaDaging kurban boleh dikornetkan untuk mendapatkan manfaat yang lebih besar.

Menjelang Idul Adha, sejumlah lembaga amil zakat (LAZ) di Tanah Air menawarkan program kurban dan bentuk kornet. Tujuannya  agar daging yang umumnya hanya tahan  hingga tiga hari,  bisa terus digunakan sebagai asupan gizi hingga tiga tahun ke depan. Sehingga, daging kurban tak mubazir.

Mengemas daging kurban dalam kornet dilakukan di era modern dengan berbagai pertimbangan. Apalagi, Indonesia merupakan kumpulan ribuan pulau yang sangat rawan terjadinya bencana. Selain itu, rendahnya pendapatan masyarakat, terutama di kawasan, pelosok, membuat kasus busung lapar masih kerap ditemui di berbagai daerah.

Daging hewan kurban dalam bentuk kornet diharapkan bisa membantu meringankan masalah tersebut. Pemanfaatan daging kurban yang dikemas dalam bentuk kornet dinilai mampu menerapkan fungsi sosial yang menjadi salah satu fungsi hakiki ibadah kurban.  Tanpa melalui teknologi pengawetan modern, daging kurban tak mampu membantu korban bencana dan kasus kelaparan yang bisa terjadi setiap saat.

Baca lebih lanjut