Prof. Azyumardi: Pendidikan Islam di IAIN adalah “Islam Liberal”

Rektor UIN Prof Dr Azhar Arsyad MA menerima kunjung an tim CIDASelasa, 25 Januari 2011

Oleh: Dr. Adian Husaini

“Sebagai lembaga akademik, kendati IAIN terbatas memberikan pendidikan Islam kepada mahasiswanya, tetapi Islam yang diajarkan adalah Islam yang liberal. IAIN tidak mengajarkan fanatisme mazhab atau tokoh Islam, melainkan mengkaji semua mazhab dan tokoh Islam tersebut dengan kerangka, perspektif dan metodologi modern. Untuk menunjang itu, mahasiswa IAIN pun diajak mengkaji agama-agama lain selain Islam secara fair, terbuka, dan tanpa prasangka. Ilmu perbandingan agama menjadi mata kuliah pokok mahasiswa IAIN.”

“Jika di pesantren mereka memahami dikotomi ilmu: Ilmu Islam (naqliyah dan ilmu keagamaan) dan ilmu umum (sekuler dan duniawiah), maka di IAIN merekadisadarkan bahwa hal itu tidak ada. Di IAIN mereka bisa memahami bahwa belajar sosiologi, antropologi, sejarah, psikologi, sama pentingnya dengan belajar ilmu Tafsir al-Quran. Bahkan ilmu itu bisa berguna untuk memperkaya pemahaman mereka tentang tafsir. Tetapi, IAIN tidak mengajarkan apa yang sering disebut dengan “islamisasi ilmu pengetahuan” sebab semua ilmu yang ada di dunia ini itu sama status dan arti pentingnya bagi kehidupan manusia.”

Itulah pernyataan Prof. Dr. Azyumardi Azra saat menjabat sebagai Rektor IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat. Pernyataan itu dimuat dalam buku IAIN dan Modernisasi Islam di Indonesia (2002, hal. 117), yang diterbitkan atas kerjasama Canadian International Development Agency (CIDA) dan Direktorat Pembinaan Perguruan Tinggi Islam (Ditbinperta) Departemen Agama.

Pengakuan Profesor Azyumardi Azra tentang corak liberal dan liberalisasi pendidikan Islam di IAIN itu tentu saja menarik untuk kita simak, sebab disampaikan bukan dengan nada penyesalan, tetapi justru dengan nada kebanggaan. IAIN merasa bangga, sebab sudah berhasil mengubah banyak mahasiswanya yang kebanyakan berbasis pesantren/madrasah menjadi mahasiswa atau sarjana-sarjana liberal.

Baca lebih lanjut

Modus Fulus Menaklukkan Pesantren

Dengan fulus, Barat terus melancarkan modusnya untuk menjinakkan pesantren di Indonesia. Melalui lembaga donor asing, kucuran dana terus digelontorkan. Depag pun menjadi makelarnya. Targetnya, mengubah kurikulum pendidikan Islam seluruh pesantren.

Dana asing terus digelontorkan ke 500 pesantren dan madrasah. Satu-satunya pondok pesantren di Jawa Timur yang menolak bantuan asing (Australia) itu adalah Pondok Pesantren (PP) Nurus Sholihah, Desa Sroyo Kanor, Bojonegoro, Jawa Timur,  pimpinan Siti Kholishoh binti KH Rifa’i.

Saat dikonfirmasi Sabili via telepon, Imron, salah seorang pengasuh PP mengatakan, awalnya ada pihak yang menawari PP untuk ikut program Madrasah Tsanawiyah Pesantren Satu Atap (MTs PSA) yang didanai Australia. ”Pihak PP menolak, karena hati-hati. Tapi, pihak yang menawari itu tetap memakai PP kami untuk mencairkan dananya,” ujar Imron.

Bantuan asing, kata Imron, diragukan kepentingan, misi dan visinya. Dengan dasar itulah PP menolak tanpa syarat. Tetapi tanpa persetujuan PP, yayasan mengajukan dana bantuan, kemudian minta segera dicairkan. Seperti diketahui, dana yang diperuntukkan bagi seluruh pesantren mencapai Rp 1,149 miliar. ”Bantuan itu, jangan membutakan mereka yang berkepentingan tanpa melihat dampak agama dan akidah, apalagi tergadaikan oleh oknum-oknum Depag dan kroninya. Yang jelas, sudah dua kali, pihak yayasan didatangi utusan Depag dari Jakarta,” tuturnya.

Baca lebih lanjut