Waspada, Filter Rokok Terbuat dari Sel Darah Babi

SYDNEY–Seorang profesor di Australia memperingatkan kelompok agama tertentu terkait dugaan adanya kandungan sel darah babi pada filter rokok. Profesor Simon Chapman menyatakan, peneliti dari Belanda mengungkap, 185 produsen rokok di negara itu menggunakan hemoglobin babi sebagai bahan pembuat filter rokok.

Profesor asal Universitas Sydney itu berpendapat sebaiknya industri rokok diberbagai belahan dunia untuk memperhatikan kepercayaan yang dianut suatu agama. “Saya pikir hal itu bisa berbahaya bagi kelompok agama tertentu bahwa terdapat rokok yang diproduksi mengandung babi,” tukasnya seperti dikutip dari Dailymail.co.uk, Rabu (31/3).

Menurutnya, komunitas muslim dan yahudi mungkin menjadi pihak yang keras menentang hal itu. Fakta tersebut bakal memunculkan persoalan berat lantaran terkait dengan keyakinan. Sementara industri rokok tidak perlu mengumumkan ramuan apa saja yang terdapat dalam rokok.”Itu rahasia industri dan menjadi semacam perdagangan rahasia,” ujarnya.

Baca lebih lanjut

Modus Fulus Menaklukkan Pesantren

Dengan fulus, Barat terus melancarkan modusnya untuk menjinakkan pesantren di Indonesia. Melalui lembaga donor asing, kucuran dana terus digelontorkan. Depag pun menjadi makelarnya. Targetnya, mengubah kurikulum pendidikan Islam seluruh pesantren.

Dana asing terus digelontorkan ke 500 pesantren dan madrasah. Satu-satunya pondok pesantren di Jawa Timur yang menolak bantuan asing (Australia) itu adalah Pondok Pesantren (PP) Nurus Sholihah, Desa Sroyo Kanor, Bojonegoro, Jawa Timur,  pimpinan Siti Kholishoh binti KH Rifa’i.

Saat dikonfirmasi Sabili via telepon, Imron, salah seorang pengasuh PP mengatakan, awalnya ada pihak yang menawari PP untuk ikut program Madrasah Tsanawiyah Pesantren Satu Atap (MTs PSA) yang didanai Australia. ”Pihak PP menolak, karena hati-hati. Tapi, pihak yang menawari itu tetap memakai PP kami untuk mencairkan dananya,” ujar Imron.

Bantuan asing, kata Imron, diragukan kepentingan, misi dan visinya. Dengan dasar itulah PP menolak tanpa syarat. Tetapi tanpa persetujuan PP, yayasan mengajukan dana bantuan, kemudian minta segera dicairkan. Seperti diketahui, dana yang diperuntukkan bagi seluruh pesantren mencapai Rp 1,149 miliar. ”Bantuan itu, jangan membutakan mereka yang berkepentingan tanpa melihat dampak agama dan akidah, apalagi tergadaikan oleh oknum-oknum Depag dan kroninya. Yang jelas, sudah dua kali, pihak yayasan didatangi utusan Depag dari Jakarta,” tuturnya.

Baca lebih lanjut