Kerusuhan: Yuk Evakuasi Al-Azhar ke Indonesia

Oleh: Ahmad Sarwat, Lc.

Kalau tidak ada kepastian kapan situasi akan membaik dan kapan perkuliahan bisa dimulai lagi, lantas bagaimana dengan nasib 5000-an mahasiswa kita di Al-Azhar Mesir? Apakah mereka harus DO begitu saja dan putus kuliah?

Memang SBY menjanjikan bahwa bila nanti situasi sudah aman, para mahasiswa kita akan difasilitasi negara untuk bisa meneruskan kuliah kembali. Tetapi siapakah yang bisa memegang janji seorang SBY?

Maka tidak salah kalau saat ini kita sudah harus berpikir lebih jauh, yaitu mengapa kita tidak mendirikan saja Al-Azhar di Indonesia, sebagaimana Universitas Al-Imam Muhammad Ibnu Suus Al-Islamiyah yang buka cabang di Jakarta, menjadi LIPIA.

Sehingga akan memudahkan proses belajar mengajar. Para mahasiswa kita tidak perlu terbang jauh-jauh sampai ke Mesir, cukup para dosen dari Al-Azhar saja yang kita `transfer` ke negeri kita.

Kalau pelatih dan pemain bola saja bisa kita beli dari luar negeri, masak sih kita tidak bisa membiayai para ulama, profesor atau doktor dalam ilmu-ilmu keislaman?

Baca lebih lanjut

Faras, Bocah Gaza yang Tewas Akibat Embargo

Channel Televisi Al Jazeera pada Rabu sore kemarin memberitakan laporan reporternya dari Jalur Gaza. Ia memberitakan meningkatnya angka korban di Gaza akibat blokade yang berkepanjangan di wilayah itu. Satu diantaranya menimpa sebuah keluarga kecil di Gaza, putra semata wayang mereka yang baru berusia 2 tahun harus mengakhiri hidupnya setelah berjuang melawan sakit, nyawanya pun berakhir di ujung ketatnya pemberlakuan embargo tehadap negeri kelahirannya. Faras nama bocah mungil itu, lahir dari orang tua bernama As’ad dan Amal. Sejak lahir jantung Faras menderita cacat bawaan. Ia pun cukup lama mendapat perawatan dari rumah sakit di Gaza, bahkan lebih lama dari keberadaannya di tengah dekapan kedua orang tuanya. Secara peralatan medis, rumah sakit yang ditempati Faras memang sangat terbatas, namun para dokter tetap berusaha keras menyelamatkan dirinya. Baca lebih lanjut