Pascaledakan di Moskow, Sentimen Anti-Muslim Meningkat

MOSKOW–Meledaknya bom bunuh diri yang terjadi di pusat kota Moskow sontak memicu kembali kebencian terhadap Muslim di Rusia. Meski hingga kini belum jelas siapa dalang di belakang pemboman ganda di kereta bawah tanah Rusia tersebut, Yang jelas adalah sentimen kebencian warga kota Moskow terhadap Muslim tengah memuncak. Galina Kozhevnikova dari Sova Center mengatakan ia dipukul setelah sebelumnya dimaki-maki dengan kata-kata rasial dan orang-orang di sekitar Nargiza yang menyaksikan pemukulan terhadapnya tidak langsung memberikan pertolongan.

Galina diasumsikan sebagai Muslim karena kulit gelapnya. Banyak warga Rusia menyebut pembom bunuh diri sebagai “syahid,” kata yang berarti martir bagi dunia Muslim. Radio populer di Moskow, Exho, melaporkan adanya dua orang perempuan berjilbab diminta bangun dari kursinya dan diusir dari kereta bawah tanah. Saksi mengatakan tidak ada sesorang pun yang memanggil polisi dan penumpang hanya menonton kejadian itu.

Baca lebih lanjut

Manusia itu Menyukai Neraka

Oleh: Prof Dr Ali Mustafa Yaqub

Ketua sebuah pengajian meminta maaf kepada penceramah karena jamaah yang hadir dalam pengajian tersebut tidak banyak. Ia semula mengharapkan agar jamaah yang datang dapat mencapai ribuan orang, tetapi ternyata hanya ratusan orang. Ia khawatir apabila penceramah kecewa dengan jumlah yang sedikit itu.

Apa komentar penceramah tersebut? Ia justru bersyukur dan tidak merasa kecewa. Katanya, ”Memang calon penghuni surga itu jumlahnya lebih sedikit dibandingkan calon penghuni neraka.” Ia pernah membaca koran bahwa di Ancol diadakan pagelaran maksiat. Yang hadir dalam pesta kemungkaran itu mencapai 700 ribu orang. Kendati pesta itu dimulai jam delapan malam, pengunjung sudah mulai datang sejak jam satu siang.

Penceramah kemudian bertanya kepada para hadirin, ”Apakah ada pengajian yang dihadiri oleh 700 ribu orang?” Hadirin pun serentak menjawab, ”Tidak ada.” Ia kemudian bertanya lagi, ”Apakah ada pengajian yang dimulai jam delapan malam, tetapi jamaahnya sudah datang jam satu siang?” Hadirin kembali serentak menjawab, ”Tidak ada.” Penceramah kemudian berkata, ”Itulah maksiat, dan inilah pengajian. Kalau ada pengajian dihadiri oleh ratusan ribu orang, boleh jadi pengajian itu bermasalah.”

Baca lebih lanjut