Ketersediaan Buku tak Jamin Keberhasilan Pendidikan Agama

(Seminar Perkembangan Buku Keagamaan)

TOKO.BUKU.PUSTAKA-ISLAM.NET


BOGOR–Tak dapat disangkal bahwa di Indonesia, setidaknya mulai pada paruh dua dekade terakhir, penerbitan buku-buku agama Islam telah mengalami perkembangan yang sangat luar biasa. Ini mungkin dipacu dan dipicu dengan booming-nya para cendekia lulusan perguruan tinggi dalam dan luar negeri telah melahirkan para penulis dan penerjemah yang sangat produktif. Sayangnya, ketersediaan buku ini tidak sertamerta menjamin keberhasilan pendidikan agama. Ini ditegaskan Mudjahid, pengajar di UIN Syarif Hidayatullah pada seminar bertajuk ‘Peta Perkembangan Perbukuan Keagamaan pasca-Reformasi’ di Bogor, kamis (18/2).

”Ketersediaan buku, memang tidak sertamerta taken for granted dapat menjamin keberhasilan pendidikan agama, memberikan pencerahan atau mampu membawa perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik,” tandas Mudjahid. Pada sisi ini menurutnya, ada tantangan bagi penerbit, penulis dan penterjemah untuk mampu menghadirkan buku bermutu dengan isi menarik dan aspiratif bagi khalayak. ”Mungkin banyak cara dapat disiasati untuk menarik perhatian masyarakat terhadap buku dan sekaligus membangkitkan minat baca serta membeli dan memiliki buku.

Antara lain lebih banyak menampilkan buku-buku agama untuk anak, yang saat ini sudah jarang sekali. ”Kita perlu berkaca pada masyarakat Jepang dengan tradisi 20 menit perhari membaca buku sebelum tidur. Sebenarnya ini setara dengan kebiasaan bangsa kita dulu, dongeng sebelum tidur yang sekarang sudah hilang. Orang tua saat ini sudah malu bercerita lagi karena temanya sangat terbatas, seperti Si kancil anak nakal,” katanya.

Selain itu menurut Mudjahid, sistem pendidikan perlu direformasi. ”Perlu mereformasi sistem pendidikan kita yang terlalu mendewakan otak kiri, berangkat dari tiga paradigma. yaitu ukurtan kecerdasan adalah nilai matematika, kunci sukses adalah nilai IQ, NEM, rapor dan lainnya serta orientasi pada problem solving,” katanya. Akibatnya menurut Mudjahid, penghargaan selalu diberikan kepada ahli matematika, tidak kepada penulis buku, puisi, novelis dan juga tidak pada guru agama.

”Juga perlu menggalakkan lomba penulisan buku pendidikan agama dengan hadiah yang membanggakan. Saat ini kalaupun ada, hadiahnya kalah dengan Indonesia Idol yang ratusan juta hadiahnya,” papar Mudjahid.

Sumber: Republika Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s