Islam Jadi Mata Pelajaran di Sekolah Umum Jerman

christian science monitor

Dua guru Jerman sedang membaca silabus pendidikan Islam bagi sekolah umum Jerman.

printSend to friend

BERLIN–Ketika Lamya Kaddor mulai mengajar di Sekolah Gluecklauf di kota pertambangan di Jerman ini, ia memutar otak bagaimana menyajikan materi yang menarik bagi anak didiknya. Ia membayangkan, kelasnya bakal “tegang” karena materi yang disampaikan lumayan “berat”, atau bahkan muridnya bosan dan pergi. Namun yang terjadi di luar dugaan.

Pelajaran agama Islam yang menjadi mata pelajaran pilihan, diikuti banyak siswa. Tak hanya anak-anak Muslim, tapi juga non-Muslim. Mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan seputar kehidupan mereka dan bagaimana pandangan Islam soal itu.

Apakah saya boleh punya pacar? Apakah kalau saya menganut Islam, saya boleh mengecat kuku saya? Apakah saya akan dibakar di api neraka jika saya memutuskan menjadi gay? Demikian berondongan pertanyaan yang harus dijawab Kaddor. Ia pun makin bersemangat mengelola kelasnya.

Baca lebih lanjut

Rizqi Barokah

“Doakan saya mendapat rezeki yang banyak ya Bulik..”

Bukan banyak! tapi yang terpenting, barokah Nak..”

Meski rezekimu banyak kalau tidak barokah..percuma saja.

Tidak ada ketenangan hidup, masalah sulit dicari jalan keluarnya, jasmani tidak sehat,anak bukan menjadi penyejuk hati tapi malah makan hati,suami istri berantem tiap hari,dan banyak lagi permasalahan yang seolah tidak ada ujungnya.

Pesan ini selalu teringat di benak saya hingga kini..

Bukan BANYAK tapi yang penting BAROKAH.

Seperti apa rezeki yang barokah itu?

Umur yang barokah?

Serta keluarga yang barokah?

Baca lebih lanjut

Iran Undang Dunia Islam Ikuti Proyek Film Palestina

Teheran, (tvOne)
Iran mengundang negara-negara Islam untuk berkolaborasi dalam memproduksi film mengenai pendudukan Palestina oleh Zionis Israel, kata Deputi Menteri Kebudayaan Iran, Javad Shamaqdari.

Dalam sambutannya pada acara penutupan festival “International Story of Resistance Film Festival” ke-2 di Beirut, Selasa (21/1). Shamaqdari mengatakan, Iran sedang merencanakan membuat sebuah film dengan tema sentral “60 Tahun Pendudukan Tanah Palestina.” “Proyek raksasa itu akan menelan biaya 10 juta dolar AS dan kami butuh kerja sama dengan negara-negara Islam dan Arab,” katanya.

Ia mengumumkan, bahwa Iran akan mendukung kualitas film-film mengenai 33 hari pertempuran antara Israel dan Hizbullah Lebanon. Jaringan TV Al-Kawthar Iran mensponsori festival “International Story of Resistance Film Festival ke-2 itu. Festival itu menayangkan film-film dokumenter, video musik dan animasi tentang gerakan perlawanan anti-Israel.

Festival “International Story of Resistance Film Festival” diadakan untuk mengenang para korban 33 hari perang di Lebanon, yang menewaskan sedikitnya 1.200 warga Lebanon, sebagian besar mereka adalah rakyat sipil. (Ant)

Sumber: tvOne

Tidak Pada Tempatnya Melecehkan Syiar Agama

Silahkan menolak fatwa, namun jika sudah melecehkan wibawa ulama, jelas itu melecehkan syiar Islam, ujar pakar syariah.

 Robin Max Marder/Illustration Works/CorbisHidayatullah.com — Ungkapan mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta yang dikutip media massa menyangkut fatwa rebonding terus mendapatkan tanggapan.

Pakar hukum syariah dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr Muinudinillah, MA mengatakan, kritikan putri proklamator itu tidak tepat dan bukan pada tempatnya. Menurut Muin, tugas ulama adalah memberikan penjelasan atau fatwa tentang hal-hal yang berurusan dengan ummat. Baik diminta atau tidak. Jika masyarakat umum, termasuk dirinya (Meutia Hatta, red) tidak tahu kapasitas dan tugas ulama, sebaiknya diminta menjaga diri. “Janganlah berbicara tanpa ilmu,” ujarnya kepada hidayatullah.com.

Pakar hukum Syariah lulusan Riyad ini menjelaskan, masyarakat sebaiknya mulai belajar menempatkan diri secara adil. Silahkan para ahli berkomentar sesuai ahlinya dan sesuai posisi masing-masing. Jika keluar dari koridor itu, bisa dianggap tak tahu diri.

“Seharusnya orang harus memahami posisi satu sama lainnya. Ulama ya bicara tentang hukum, syariat Allah, karena dia yang menjadi rujukan ilmu dalam hal ini,” kata Muin, dalam perbincangan dengan Hidayatullah.com, Rabu (20/01).

Baca lebih lanjut

Pembinaan Mualaf Belum Terstruktur

Jumlah Mualaf Indonesia Tumbuh 10-15 Persen per tahun

WORDPRESS

Muhammad Syafii Antonio, Penasihat Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI)

JAKARTA– Pembinaan mualaf di Indonesia memiliki peran penting dalam meningkatkan keimanan mereka. Sayangnya, pembinaan bagi para mualaf masih belum terstruktur. ”Seharusnya, pembinaan terhadap mualaf dilakukan lebih terstruktur,” kata Penasihat Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Muhammad Syafii Antonio, di Jakarta, Rabu.

Syafii yang berbicara saat Workshop Pembinaan Mualaf, mengatakan, saat ini pendekatan pembinaan mualaf juga belum menggunakan pendekatan spiritual ataupun intelektual. Mestinya, kata dia, kedua hal itu digunakan dalam pembinaan terhadap mualaf. Bahkan, bisa dilakukan melalui pendekatan yang lebih lengkap.

Menurut Syafii, yang juga dikenal sebagai pakar ekonomi syariah itu, pendekatan finansial juga bisa digunakan dalam melakukan pembinaan terhadap mualaf, selain pendekatan sisi spiritual dan intelektual. Ia mengungkapkan, saat ini pola pembinaan terhadap mualaf sama seperti pergi ke majelis taklim biasa.

Padahal, ungkap Syafii, mualaf datang dari latar belakang intelektual yang berbeda. ”Jika seorang mualaf memiliki latar belakang atau memiliki keahlian di bidang pertanian, misalnya, pembinaan iman terhadapnya bisa dengan pendekatan melalui ayat-ayat yang membahas tentang pertanian,” katanya.

Baca lebih lanjut

Syaikh Tamimi: Masjid Al-Aqsha akan Segera Runtuh

Syaikh Taysir Tamimi, ketua mahkamah Palestina memperingatkan kemungkinan akan runtuhnya masjid Al-Aqsha karena penggalian yang dilakukan oleh zionis Yahudi di bawah lantai masjid dan sekitarnya.

Syaikh Tamimi mengatakan hal tersebut dalam sebuah konferensi pers yang diadakan pada hari rabu kemarin (20/1) di Ramallah.

“Saya takut, kekhawatiran saya ini adalah yang terakhir sebelum runtuhnya masjid Al-Aqsha dan saya berharap umat Islam dunia harus segera bangun dari tidurnya untuk membela Al-Aqsha,” kata Syaikh Tamimi.

Pada konferensi pers tersebut Syaikh Tamimi juga memperlihatkan kepada pers, foto tanah yang longsor yang terjadi di dekat masjid Al-Aqsha akibat penggalian yang dilakukan zionis Yahudi di tempat itu, termasuk baru-baru ini runtuhnya sebagian kompleks masjid di wilayah Silwan yang terjadi hari Senin lalu, dan ia mengungkapkan bahwa adanya lubang yang dalam di bawah tanah.

Dia menekankan bahwa persoalan ini sangat serius, dan telah berulang kali ia memberikan peringatan akan akibat dari penggalian zionis Israel di bawah masjid Al-Aqsha, dan kembali menegaskan bahwa penggalian tersebut akan menyebabkan runtuhnya masjid Al-Asha, seperti dilaporkan AFP.

Baca lebih lanjut

Berbaik Sangka pada Ulama

Ulama itu pewaris Nabi. Jadi setiap fatwa yang diberikan pasti untuk maslahat. Bukan mengada-ada, sebagaimana tuduhan orang yang tak paham agama

Hidayatullah.com—Persoalan hukum agama dan masalah fatwa ulama, sering disalah mengerti masyarakat, khususnya masyarakat awam yang tak paham agama. Sekalipun umat Islam di Indonesia mayoritas, namun kadangkala menanggapi fatwa agama yang dikeluarkan ulama ditanggapi pro dan kontra. Meski demikian, Majelis Ulama Indonesia (MUI) memaklumi masalah seperti ini.

Hanya saja, sebagai lembaga moral, MUI dan para ulama tetap harus mengeluarkan fatwa jika itu menyangkut masalah keumatan (umat Islam). Diterima atau tidak, itu soal lain, sebab tugas ulama menyampaikan kebenaran.

Pernyataan ini disampaikan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Dr. Mustafa Ya’kub, MA, Selasa (19/1) ketika diminta pandangannya atas pernyataan mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan, Meutya Hatta yang menganggap fatwa rebonding pada wanita sebagai perilaku kurang pekerjaan pihak ulama.

Sebelumnya, hari Senin (18/1) dikutip media, anak Proklamator RI menyatakan, langkah MUI yang akan mengeluarkan fatwa rebonding sebagai langkah kurang kerjaan. Ia menilai, banyak hal lain yang perlu dipikirkan bersama, bukan dengan mengharamkan hal-hal yang ada di tengah masyarakat.

Baca lebih lanjut