Erdogan: Sikap Pemimpin Muslim Layak Diratapi

dakwatuna.com – Ankara, Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan menyebutkan, sikap para pemimpin Islam terhadap penderitaan Palestina layak diratapi.

Pernyataan ini diungkapkan Erdogan pada kantor berita Perancis AFP (Agence Perancis-Presse) , sebelum ia berangkat ke Uni Emirat Arab dan Saudi Arabia, dalam lawatanya ke negara-negara teluk. Ia mengatakan, “Sejumlah negara Islam belum memberikan tanggapanya terkait masalah Palestina yang ditunggu-tunggu kamu muslimin di seluruh dunia. Kondisi ini patut diratapi, ungkapnya.

Sementara itu, Erdogan mengkritik pemerintahan Islam yang berkolaborasi dengan Entitas Zionis Israel hingga menyebabkan serangan negara ke Gaza, terutama serangan berdarah terhadap militernya pada musim panas lalu.

Pernyataan perdana menteri Turki ini bersamaan dengan berakhirnya kunjungan Menteri Perang (Menhan) Israel, Ehud Barack ke Ankara yang bertujuan menenangkan suasana paska ketegangan diplomatic antara dua negara. Sejak saat itu, perdana menteri, Erdogan maupun presidenya, Gaul belum pernah menemui pihak Israel. Keduanya marah atas sikap negara Zionis tersebut terhadap dubesnya di Tel Aviv. (asy/ip)

Sumber: dakwatuna.com

Gaza Galang Solidaritas Haiti

dakwatuna.com – Gaza, Penderitaan tidak menghalangi warga Jalur Gaza untuk ikut menyatakan solidaritas mereka dengan korban gempa di Haiti. Sebagai wujudnya mereka meluncurkan program penggalangan dana untuk korban gempa di Haiti. Ketua “Komite Rakyat Anti Blokade Gaza” Jamal al Khudri hari ini mengumukan peluncuran kampanye penggalangan “Dana Sukarela Gempa Haiti” di kantor Palang Merah hari ini, Senin (18/1).

Khudri mengatakan, “Rakyat Palestina menyadari besarnya tragedi yang menimpa orang-orang Haiti; karena rakyat Palestina selama puluhan tahun telah mengalami berbagai bentuk kejahatan, mulai dari agresi, blokade dan penutupan.”

Dia menambahkan bahwa “Inisiatif ini sebagai ungkapan perasaan solidaritas kemanusiaan dari warga Gaza yang telah menderita akibat kematian, kehancuran, diusir dari rumah-rumah mereka, tinggal di tenda-tenda pengungsi, kehilangan orang-orang yang disayangnya dan merasakan perihnya luka.”

Baca lebih lanjut

Lima Pemukim Yahudi Ditahan Karena Serang Masjid

Jerusalem, (tvOne)

Lima pemukim Israel ditahan sehubungan dengan serangan dan pembakaran terhadap sebuah masjid Palestina di Tepi Barat Desember lalu, kata radio militer, Senin (18/1). Ke lima orang itu ditahan dalam satu operasi oleh polisi Israel dan badan keamanan domestik Shin Bet di Yitzhar, satu pangkalan para pemukim garis keras di Tepi Barat bagian utara. Lima orang lainnya yang dicari polisi juga ditahan dalam operasi Ahad malam.

Polisi sebelumnya menahan seorang pemuda berusia 17 tahun dari permukiman Tepi Barat lainnya sehubungan dengan serangan terhadap masjid itu, tetapi ia kemudian dibebaskan. Pada 11 Desember, para penyerang merusak sebuah masjid di Tepi Barat , membakar kitab-kitab suci Muslim dan menulis pesan-pesan kebencian dalam bahasa Yahudi dalam satu serangan yang dituduh dilakukan para warga Yahudi berhaluan keras yang marah pada rencana untuk mengekang pembangun permukiman Yahudi.

Para pemukim Yahudi berhaluan keras juga menyetujui apa yang mereka sebut kebijakan ” kartu harga” berdasarkan itu mereka menyerang warga Palestina, ladang-ladang dan desa-desa mereka,apabila pemerintah Israel melakukan tindakan untuk mengekang pembangun proyek-proyek perumahan.(ANT)

Sumber: tvOne

Hermeneutika Membahayakan Akidah Umat

Belum pernah Orientalis mengatakan, Al-Quran merupakan perangkap Quraisy. Tapi “murid-muridnya” di Indonesia sudah berani mengatakannya


Hidayatullah.com—Hermeneutika  sangat berbahaya bagi akidah umat Islam. Hermeneutika ini muncul dan hadir sebagai virus ketika paham liberalisme di Indonesia mulai disosialisasikan oleh beberapa alumnus McGill University di kalangan IAIN.

Mereka secara sengaja, melalui berbagai upaya yang dilakukan secara ilmiah, sangat ingin menyeret umat Islam untuk memahami Al-Quran dengan konsep dan metodologi interpretasi teks yang telah digunakan Barat untuk memahami Bibel.

Demikian disampaikan peneliti dari Institute for the Study of Islamic Thought & Civilization (INSISTS) Jakarta, Dr. Adian Husaini, hari Ahad (17/1), pada “Workshop Tafsir dan Hermeneutika” selama satu hari penuh.

Acara yang bertempat di Masjid Abu Bakar Al-Shidiq Ponpes Husnyain, Jl. Lapan Pekayon No. 25 Jakarta Timur, ini juga menghadirkan nara sumber ahli INSISTS lainnya, yakni  Nirwan Syafrin, MA, Henri Shalahudin, MA, dan Fahmi Salim, MA.

“Liberalisme berkembang pesat di Indonesia sejak kehadiran kafilah yang telah menyelesaikan studinya di McGill University dengan embel-embel gelar dan pengakuan ahli Islam dari Barat. Mereka inilah yang telah mengubah orientasi dan kurikulum IAIN di Indonesia,” jelasnya.

Baca lebih lanjut

MUI Dorong Umat Islam Dirikan TV

Tidak saja mendesak memiliki stasiun TV, bahkan seharusnya umat Islam sudah sejak lama memiliki TV

Hidayatullah.com–Hasil pertemuan MUI Se-Sumatera yang menginginkan agar Majelis Ulama Indonedia (MUI) Pusat mendirikan sebuah stasiun TV dinilai sangat tepat oleh salah satu Ketua MUI KH. Cholil Ridwan. Dia menegaskan wacana TV untuk umat Islam ini telah lama didiskusikan.

“Kita tidak saja mendesak untuk memiliki stasiun TV, bahkan kita telah terlambat memilikinya. Seharusnya TV ini sudah ada sejak lama,” tegasnya kepada hidayatullah.com, saat ditemui di kampus Pesantren Husnayain Jakarta Timur.

Menurut Cholil, MUI terhitung terlambat mengusulkan ini, sebab jika dihitung umat Islam yang mayoritas, seharusnya telah memiliki stasiun TV sejak lama.

“Umat Islam hingga saat ini masih belum punya. Padahal dari segi kuantitas di Indonesia kita mayoritas, tetapi faktanya dalam hal-hal yang sifatnya strategis  untuk pencerdasan umat seperti stasiun TV ini, kita selalu ketinggalan,” imbuhnya.

Baca lebih lanjut

Habib Rizieq: Semestinya Umat Islam Saling Menguatkan

Hari ini terjadi peralihan beberapa sasaran atas dunia Islam. Sekarang targetnya bukan menyerang umat Islam, tapi mengadu domba umat Islam satu dengan yang lainnya. Melahirkan perpecahan, yang semestinya bisa kita hindarkan.

Musuh-musuh Islam memanfaatkan segala cara dan kemampuan mereka. Mereka menggunakan kekuatan finansial, mereka berusaha membeli kelompok-kelompok yang memang bisa dibeli dan dijadikan kaki tangan serta antek-antek musuh Islam. Kemudian mereka dijadikan sebagai bumper untuk berhadapan dengan sesama kaum Muslimin.
Kelompok yang bisa dibeli ini dijadikan sebagai ujung tombak untuk menghadapi para mujahidin. Itulah yang terjadi di wilayah seperti Pakistan. Kelompok Taliban disebut menyerang yang anti Taliban. Kelompok yang anti Taliban disebut menolak yang Taliban. Semua sedang diadu-domba.

Kenapa ada gerakan Islam di Irak, Afghanistan dan juga Pakistan yang memusuhi kepala negaranya? Karena dimata orang-orang yang dipimpin, mereka adalah pemimpin boneka. Terminologi boneka ini sengaja diciptakan oleh kekuatan imperialisme, dan akhirnya mereka yang diuntungkan tanpa harus mengeluarkan pengorbanan.

Umat Islam harus menemukan cara untuk keluar dari situasi adu domba ini. Perbedaan itu wajar, no problem. Ada yang mau berdakwah dengan lembut, silakan. Ada yang dengan hisbah dan tegas, tak ada masalah. Ada juga yang berjihad dengan keras, tidak ada apa-apa. Tapi banyaknya metode itu, seharusnya disatukan dengan syariah. Tidak ada yang boleh melanggar syariah.

Baca lebih lanjut

Amnesti: Israel Hukum Kolektif Penduduk Gaza

Amnesty InternationalYerusalem, (tvOne)

Amnesti Internasional hari Minggu (17/1) menuduh Israel “menghukum secara kolektif” penduduk Jalur Gaza dengan penutupan perbatasan yang diperketat setelah gerakan Hamas menguasai wilayah itu pada 2007.

Kelompok hak asasi manusia yang berpusat di Inggris itu mengatakan, penembakan roket oleh gerilyawan Palestina tidak bisa digunakan sebagai dalih untuk membenarkan hukuman itu. Israel mengklaim bahwa penembakan roket berkurang hingga 90 persen sejak ofensifnya di Gaza tahun lalu. (Ant)

Sumber: tvOne