Doktrinasi Hajar Aswad

HAJI & UMRAH
Oleh: Setyanavidita Livikacansera
Mencium Hajar Aswad sunnah, sedangkan menjaga kehormatan sesama Muslim wajib.

Mencium Hajar Aswad kerap dijadikan tolak ukur perjalanan haji seseorang. Ketika jamaah haji kembali ke Tanah Air, tidak jarang kerabat atau tetangga melontarkan pertanyaan apakah dia  berhasil mencium Hajar Aswad.

Tidak jarang pula, persepsi masyarakat terhadap Hajar Aswad sedemikian besarnya hingga kadang mencium Hajar Aswad menjadi salah satu ritual utama yang berpengaruh langsung terhadap kemabruran ibadah haji. “Persepsi tersebut sebenarnya keliru karena pada prinsipnya hukum mencium Hajar Aswad adalah sunnah,” tutur da’i kondang KH M Rusli Amin MA.

Dia mengutip Umar bin Al-Khattab dalam salah satu ucapannya yang abadi, “Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak membahayakan, dan tidak pula dapat memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullah SAW menciummu, maka sekali-kali aku tidak akan menciummu.” (HR Bukhari).

Ritual mencium Hajar Aswad dimulai dari tindakan Rasul yang mencium batu yang tertanam di pojok Selatan Kabah pada ketinggian sekira 1,10 meter dari tanah. Panjangnya sekira 25 sentimeter dan lebarnya sekitar 17 sentimeter. Dari situ, mulailah para jamaah haji mengikuti tindakan Rasul tersebut hinga kini.

Dalam salah satu sabdanya, Rasulullah SAW bersabda, “Hajar Aswad itu diturunkan dari surga, warnanya lebih putih daripada susu, dan dosa-dosa anak cucu Adamlah yang menjadikannya hitam.” (Jami al-Tirmidzi al-Hajj (877), derajat hadis Hasan Shahih).

Rusli menegaskan, apabila keadaan memungkinkan bagi jamaah haji untuk mencium Hajar Aswad, merupakan hal yang sangat baik dan berpahala yang luar biasa. Tapi, sayangnya tidak jarang orang melakukan berbagai cara, bahkan hingga merugikan orang lain, agar mampu memudahkan dirinya mencium Hajar Aswad.

Menurut Rusli, apabila cara yang digunakan ternyata mengandung hal-hal yang dilarang oleh agama, seperti menginjak orang lain atau membiarkan jamaah lain terjatuh maka hal tersebut justru akan membuat kesucian ibadah yang kita jalani ternoda. “Bagaimanapun jangan sampai hanya karena kita mengejar hal yang sunnah, kita melakukan hal yang dilarang oleh agama atau mengorbankan hal-hal yang justru wajib, seperti menghormarti sesama Muslim,” tegas Rusli Amin.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ustadz Ahmad Hadi Wibawa atau lebih dikenal sebagai Aa Hadi. Dalam wawancaranya dengan TvOne beberapa waktu lalu, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan dalam menjalani ibadah yang terkait dengan  Hablumminallah (hubungan vertikal antara manusia dgn Tuhannya) dan  Hablumminannas (hubungan horisontal antara manusia dgn manusia lainnya).

Menurutnya, dalam menjalankan ibadah haji sudah semestinya kita menaga kesucian ibadah kita. Jangan sampai hanya untuk mengejar kesempatan  mencium Hajar Aswad kita membuat saudara sesama Muslim mengalami kesusahan.

“Pada beberapa riwayat Rasul dikatakan bahwa barangsiapa yang mencium Hajar Aswad maka Allah SWT akan mengampuni segala dosanya. Meskipun ganjaran yang diberikan sedemikian besar bagi orang yang mampu menciumnya, tapi harus diingat dalam setiap ibadah yang kita lakukan, hati kita harus terjaga kesuciannya demi mendapatkan ridha Allah semata,” papar Aa Hadi.

“Kesalahan persepsi calon jamaah haji Indonesia itu disebabkan banyak dari kita yang menjalani agama dengan perasaan,” ungkap Ustadz Bobby Herwibowo Lc, pemimpin Majlis Al-Kauny, Cipayung, Jakarta. Menurutnya, hal ini terjadi karena banyaknya doktrinasi yang dilakukan oleh masyarakat sehingga banyak hal yang tidak perlu dilakukan justru kerap dipaksakan karena doktrinasi tersebut.

Tidak sedikit orang membayar ‘joki Hajar Aswad’ yang bertugas untuk menghalangi jamaah lain mendekati Hajar Aswad agar ia dapat mencium Hajar Aswad. Ada pula orang yang takut  berangkat haji karena khawatir segala dosa yang pernah ia lakukan selama ini akan diperlihatkan oleh Allah SWT di Tanah Suci.

Menurut Bobby, orang yang sampai melakukan hal seperti itu merupakan orang-orang yang telah menggugurkan kewajiban beragama untuk melakukan sesuatu yang hukumnya hanya sunnah. Mencium Hajar Aswad hukumnya sunnah, sedangkan menjaga kehormatan sesama Muslim hukumnya wajib. “Karena itu, penting sekali bagi setiap calon jamaah haji untuk berangkat ke Tanah Suci dengan ilmu yang tepat. Amalan tanpa ilmu tidak akan sempurna di mata Allah,” Bobby mengingatkan. ed: kelana


Info Haji
DPD Kirim Dua Tim ke Tanah Suci

Untuk mengawasi persiapan dan pelaksanaan ibadah haji pada musim haji tahun 1430 H, Komite III Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI membentuk dua tim kerja yang melakukan observasi langsung ke Tanah Suci. Tim pertama yang bertugas mengawasi persiapan ibadah haji, bertolak ke Tanah Suci pada 26-30 Oktober lalu. Sedangkan tim kerja yang melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan ibadah, rencananya akan berangkat ke Tanah Suci pada 20 November dan akan kembali pada 3 Desember 2009.

Sebagai tim kerja yang melakukan pengawasan terhadap persiapan pelaksanaan ibadah haji, Komite III DPD RI melakukan kunjungan ke tiga daerah kerja  (Dakker), yaitu Jeddah, Madina, dan Makkah. Dakker Jeddah bertugas mengawasi kedatangan dan kepulangan para jamaah, Dakker Madinah brtugas melayani jamaah haji Indonesia selama berada di Madinah, sedangkan Dakker Makkah bertugas melayani jamaah haji ketika melaksanakan ritual ibadah haji di Makkah.

Ketua Komisi III DPD RI Dr Sulistyo M Pd mengungkapkan, dari hasil pengawasan persiapan pelaksanaan haji, tim kerja dari Komite III menemukan masih banyak permasalahan yang berpotensi mengganggu pelaksanaan ibadah para jamaah.

Persoalan-persoalan yang ada tersebut masih banyak didominasi oleh permasalahan klasik, seperti pemondokan, catering, dan kurangnya alat transportasi. “Di lapangan kami menemukan bahwa kondisi pemondokan sebagian jamaah masih terletak cukup jauh dari Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Jarak yang harus ditempuh jamaah lebih kurang tujuh kilometer. Sedangkan pada tahun ini terdapat pengurangan jumlah bus yang merupakan alat transportasi para jamaah,” papar Sulistyo.

Setelah tim kedua yang bertugas mengawasi jalannya pelaksanaan ibadah haji pada tahun ini kembali, Komite III berencana mengadakan Rapat Kerja dengan pemerintah dalam hal ini Menteri Agama. Raker tersebut untuk memberikan beberapa rekomendasi perbaikan pelayanan dan manajemen ibadah haji.

Menurut Sulistyo, sudah saatnya pemerintah bersikap lebih transparan dan mengutamakan pelayanan haji yang akuntabilitasnya dapat dipertanggungjawabkan. Hal itu sangat penting,  agar para jamaah haji Indonesia tidak lagi harus mengalami berbagai kendala dalam beribadah di Tanah Suci.  dita, ed: kelana

(-)

Sumber: Republika Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s