Gerakan Liberal Perlu Disikapi

NU tak ada kaitan dengan Jaringan Islam Liberal.

KEDIRI — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Hasyim Muzadi, menyatakan, liberalisasi pemahaman melahirkan gerakan yang ekstrem. ”Gerakan liberalisme dan ekstremisme di Indonesia perlu disikapi,” katanya di Kediri, Jawa Timur, Ahad (18/10).

Menurut Hasyim, liberalisme dan ekstremisme ini juga akan dibahas dalam muktamar NU ke-32 yang digelar di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 25 hingga 31 Januari 2010 mendatang. Gerakan liberal memang harus diwaspadai pula, dikhawatirkan ke depan bisa mengganggu kestabilan negara.

Hasyim mengungkapkan, pihaknya sedang merumuskan konsep tentang antisipasi gerakan liberalisme serta ekstremisme. Saat ini, tambah dia, konsep tersebut masih dibahas oleh PWNU Jawa Timur dan Jawa Tengah, untuk bahan muktamar mendatang.

Ketua PWNU Jawa Timur, Kiai Mutawakil Alallah, mengatakan, diperlukan upaya proteksi terutama segi akidah dalam menghadapi gerakan liberalisme dan ekstremisme. ”Perlu ada proteksi dan perumusan kaderisasi yang tepat dengan doktrinasi, bukan hanya orientasi.”

Menurut Mutawakil, dampak yang disebabkan pemahaman liberal sangat hebat. Di antaranya, dapat merusak moral ataupun akidah umat. Selain melakukan doktrinasi untuk membendung pemahaman liberal, pihaknya akan melakukan pencerahan.

Langkah ini, ungkap Mutawakil, dilakukan dengan sejumlah catatan, seperti pembuatan buku, sosialisasi ke media, terjun langsung memberi pencerahan ke cabang-cabang, serta agenda lainnya. Ia berharap langkah-langkah itu berhasil membendung liberalisme dan ekstremisme.

Secara terpisah, juru bicara Forum Kiai Muda (FKM) Jawa Timur, KH Abdullah Syamsul Arifin, menegaskan bahwa NU tak sepakat dan tak memiliki kaitan dengan gerakan liberal, termasuk dengan Jaringan Islam Liberal (JIL).

Abdullah juga menyatakan, anggota NU maupun FKM Jawa Timur, sangat resah dengan adanya suara yang menghubung-hubungkan NU dengan JIL. Sebab, salah satu penggerak JIL, Ulil Abshar Abdalla, adalah seorang warga NU.

Oleh karena itu, jelas Abdullah, belum lama ini NU meminta Ulil mengklarifikasi tiga ajaran JIL yang disampaikan Ulil tak sesuai dengan ajaran NU. Ketiganya adalah pernyataan bahwa semua agama itu benar, desakralisasi Alquran, dan deuniversalisasi Alquran.

Menurut Abdullah, NU bertolak belakang dengan ajaran JIL karena tidak sesuai dengan ajaran Islam. Ia menyatakan, agama yang benar di muka bumi hanyalah Islam. Selain itu, agama Islam menjamin keselamatan dunia dan akhirat bagi pemeluknya.

Hal ini jauh berbeda dengan ajaran JIL yang menganggap semua agama itu benar dan menyelamatkan. ”Meski NU memiliki ideologi Islam merupakan satu-satunya agama yang benar, bukan berarti kami tak memiliki toleransi terhadap agama lain,” kata Abdullah menegaskan.

Abdullah menyatakan, ajaran yang disampaikan JIL merupakan wacana kosong belaka. Ajaran JIL tak sesuai dengan ajaran NU. ”Hal yang jelas, NU tak memiliki kaitan apa pun dengan JIL. Ajaran yang dianut pun sangat jauh berbeda,” ungkapnya.

Sikap tegas NU terhadap JIL, ujar Abdullah, sudah terlihat nyata saat diadakannya muktamar pada 2004 di Boyolali dan musyawarah nasional pada 2006. Menurut dia, NU menganggap ajaran JIL telah menyimpang dari ajaran Ahlul Sunnah wal Jamaah.

Abdullah mengatakan, jika ada anggota NU yang masuk JIL, berarti secara ideologi anggota tersebut telah keluar dari NU. Sebab, saat anggota NU masuk JIL memiliki arti bahwa dia tak lagi memiliki ideologi yang sama dengan NU. (ant/dya)

Sumber: Republika Online

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s