Turki dan Sumpah Palsu Seorang Dokter

Mungkin ini efek dari pernyataan Syeikh Tantawi di Al-Azhar, Mesir. Mungkin juga karena Tukri memang negara yang sekular, dan rakyatnya tak memegang Islam dengan benar. Seorang wanita tua di kota Eskisehir ditolak dalam pemeriksaan medis oleh dokter, karena memakai jilbab.

Fatma Arduc, 69, dilarikan ke pusat kesehatan swasta karena sakit perut, tetapi, katanya, bukannya mendapatkan pemeriksaan medis, ia dihadapkan pada sebuah pertanyaan dari Dokter wanita, yang memeriksanya: "Mengapa Anda tertutup begini?"

Wanita tua itu menjawab dengan mengerutkan kening, "Ini adalah pakaian yang biasa kami kenakan." Gulsen Y., sang dokter, malah memintanya untuk membawa kartu identitas. Artuç kembali ke rumahnya mengambil kartu identitas. Melihat foto di KTP yang menunjukkan kepalanya tertutup, kali ini si dokter menyatakan bahwa gambar pada KTP dan kartu sehat Artuc tidak menyerupai dan ia kemudia menolak pemeriksaan medis wanita tua itu.

Baca lebih lanjut

Aboutaleb, Wali Kota Muslim Rotterdam

Ahmed Aboutaleb

Seorang perempuan berjilbab menggandeng tangan anak-anaknya. Ia berlalu melewati sebuah toko minuman keras. Ia melenggang, mengabaikan deretan botol minuman keras yang terlihat dalam toko. Kakinya, ia langkahkan ke toko daging Muslim, di sebelah toko minuman itu.

Di seberang jalan, seorang laki-laki muncul dari sebuah toko alat bantu seks dengan barang-barang yang dibelinya. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat, tanpa menoleh ke sebuah restoran kebab Turki yang baru saja dibuka untuk makan siang.

Pemandangan itu terlihat di salah satu kota di Belanda, Rotterdam. Orang konservatif dan liberal, religius dan sekuler, serta orang Belanda dan asing, semuanya ada di sana. Perbedaan ini harus mampu dikelola dan terkadang juga menjadi potensi konflik.

Keberagaman semacam itulah yang dihadapi Ahmed Aboutaleb, Wali Kota Rotterdam, Belanda. Awal tahun lalu, ia yang seorang Muslim kelahiran Maroko dipercaya memimpin kota itu. Tentu, ia pun dituntut mampu menjembatani perbedaan budaya dan keyakinan masyarakatnya itu.

Baca lebih lanjut

Robohnya ‘Rumah Gadang’

Oleh: Tifatul Sembiring
Presiden PKS

Berjalan menyusuri kawasan gempa Sumatra Barat 30 September 2009 lalu, membuat hati ini terenyuh, bergidik menyaksikan bangunan-bangunan yang hampir seluruhnya rubuh di sepanjang jalan. Berada di kota Padang saja, tidak tahan pilunya hati, tangisan dan ratok keluarga korban, disertai sergapan bau amis mayat yang masih belum sempat di evakuasi.

Di kelurahan Tarantang, Lubuak Kilangan, pinggiran kota Padang, rumah-rumah Perumnas yang baru dihuni dua bulan, sudah runtuh kembali. Belum lagi pemandangan sekitar di hampir semua jalur yang kami lewati sambil menyalurkan bantuan, hancur luluh akibat gempa.

Di tengah Kota Padang, menurut data Satkorlak, tidak kurang dari 11 ribu bangunan hancur dan sudah lebih dari 200 jenazah ditemukan. Mulai dari tempat kursus Gama di samping kantor Padang Ekspres, show room mobil Adira, kantor-kantor Pemerintahan, LIA, Pasar Raya, Hotel Ambacang, Hotel Bumi Minang, Kampuang Cino, juga Muaro. Bahkan di Hotel Ambacang sampai hari ini, masih dilakukan evakuasi.

Berbagai spekulasi jumlah korban diungkapkan, karena tidak ada akses jalan masuk. Bongkahan puing beton masih bertumpukan. Di Hotel Ambacang saja, baru 10 persen puing yang dirubuhkan. Sementara bangunan utama kelihatan masih utuh, meski konstruksi sebenarnya sudah patah dua lantai. Aroma busuk kuat tercium sehingga sebagian relawan dan petugas menggunakan masker penutup hidung.

Baca lebih lanjut