Awas Penyebaran Diktat Bodong (1)

Beberapa pekan terakhir di bulan Maret 2009 ini, Tim Fakta menerima laporan bahwa telah beredar diktat berjudul Menelusuri Jejak–Jejak Komunis dalam Pergerakan Islam. Diktat berjilid spiral ini berisi kliping berita, artikel media cetak serta komentar penyusun pada tiap kliping yang umumnya menyudutkan Islam.

Rupanya, sang penyusun–yang mengaburkan identitasnya–ini mengirimkan diktat karyanya pada tokoh-tokoh penting di negeri ini. Di antaranya, Menteri Agama, Menkopolkam, Kapolri, Kejaksaan Agung, para Gubernur, Bupati/Walikota, Ketua DPRD se-Indonesia, pengurus MUI, Ketua FPI, Ketua Majelis Mujahidin Indonesia, Ketua Hizbut Tahrir Indonesia, BEM UI, BEM UGM, media cetak, televisi dan lainnya.

Kliping berita dan artikel dalam diktat ini berisi beberapa hal.

Pertama, berita kriminal yang dilakukan oknum beragama Islam.

Kedua, wawancara Nasr Abu Zayd, tokoh liberalis Muslim terkemuka (hlm 107).

Ketiga, cuplikan berita dari Tabloid Katolik Sabda tentang musibah yang menimpa Pastor Romo Antonius Beni Susetyo, Sekretaris Eksekutif KWI (hlm 155).

Keempat, artikel Frans Magnis Suseno SJ yang mengkritik UU Pornografi sebagai ”ancaman tersembunyi” (hlm 62), dan lainnya.

Berikut ringkasan keseluruhan isi dari diktat ini:

1. Mengadu domba umat Islam dengan umpan dan penyulut dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadits yang dicomot-comot sesukanya (hlm 15).

2. Menuduh adanya ayat al-Qur’an dan hadits palsu sebagai penyulut umat Islam untuk selalu bersemangat dalam perang dan memerangi kaum kafir (hlm 20).

3. Menuding orang Kristen di Barat yang masuk Islam karena falsafah hidup free sex sejalan dengan ajaran poligami dalam Islam (hlm 21).

4. Menuduh adanya ayat-ayat palsu yang disisipkan dalam al-Qur’an (hlm 24).

5. Al-Qur’an mengajarkan membunuh kepada musuhnya dengan segala cara dan kejahatan (hlm 33, 93 dan 126).

6. Menuduh umat Islam menghalalkan cara pengeboman untuk menumpas semua musuh Islam (hlm 36 dan 47).

7. Menyebutkan bahwa jumlah jemaah haji di Indonesia meningkat seiring meningkatnya kasus korupsi yang menimpa tokoh-tokoh Islam. Haji dianggapnya sebagai cara memutihkan uang hasil korupsi. Di akhir tulisan penulis bertanya, “Islam agama Allah atau agama syaitan sih? (hlm 51).

8. Menuduh al-Qur’an dan hadits sudah diubah, disisipi ayat-ayat palsu dan disalahgunakan oleh penguasa yang gila kekuasaan (hlm 98).

9. Menuding adanya ayat-ayat sisipan dalam al-Qur’an yang harus disensor karena mengajarkan kebrutalan, kekejian dan membolehkan pemerkosaan pembantu rumah tangga. Al-Qur’an dan hadits harus dilarang karena merendahkan perempuan dan melanggar UU Pornografi (hlm 54 dan 92).

10. Menuduh Islam menghalalkan pemerkosaan dan terorisme (hlm 61, 62, 101 dan 105).

11. Menuding al-Qur’an sudah direvisi dan disisipi bermacam-macam ayat agar sesuai dengan adat-istiadat, kebiasaan, hobi para penguasa dan orang kaya setelah Nabi Muhammad wafat (hlm 108 dan 136).

12. Menganggap adanya ayat-ayat setan dalam al-Qur’an, sehingga sepanjang sejarah umat Islam selalu bertengkar dan berperang. Maka sudah waktunya al-Qur’an dan hadits dikoreksi agar tak memakan korban lebih banyak lagi (hlm 115, 116 dan 134).

13. Menuding iman umat Islam tipis sehingga menjadikan kristenisasi sebagai momok. Jika umat Islam ragu dengan keislamannya, sebaiknya pindah agama dengan damai tak usah ribut-ribut menuduh kristenisasi (hlm 122).

14. Memuji film Fitna (hlm 128).

15. Meminta pada Harian Kompas untuk menerbitkan diktat ini (hlm 130 dan 132).

16. Menuduh kewajiban ibadah haji sebagai bukti bahwa Islam telah diperalat oleh para ulama dan penjajah Timur Tengah sehingga negara-negara Arab dan para calo-calonya semakin kaya, sementara rakyat diperas tabungannya agar melarat (hlm 136).

17. Menyindir semangat anti pornografi di kalangan umat Islam dengan kalimat “Porno, no! Memperkosa Perempuan, yes, yes.” (hlm 105, 160) dan “Allah pun disuap dengan UU Pornografi.” (hlm 163).

18. Menuduh Islam sebagai agama yang melonggarkan poligami bebas tanpa batas, pemerkosaan, kawin-cerai dan kawin kontrak (hlm 165).

Sayangnya, penyusun diktat sarat hujatan ini tidak berani mencantumkan identitas dan alamat yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Sang penulis justru memakai banyak inisial palsu pada tiap tulisannya. Di antaranya, Abdussalam Mustakim, Nurani, Achmad Tohirum, Muh Ponijan, Abdullah, Ahmad Dasron, Zulkarnain Subadi dan Khadijah, yang semuanya dicantumkan sebagai mahasiswa/mahasiswi FISIP UI Depok.

Ada juga nama lain seperti, KH Irpan Jidni MBA (memelesetkan nama KH Irfan Zidni), Tim Pembela Islam, Abdulmanan (Ponpes At-Tahiriyah Jakarta), Husni Thayib MBA (Ponpes At-Tahiriyah Jakarta), Muhsin Alhambra, dan lainnya.

Anehnya, meski nama penulisnya berbeda-beda, tapi struktur tulisan dan gaya bahasa yang digunakan sama. Sehingga Tim Fakta menyimpulkan, penulis dan penyusun diktat ini hanya satu orang. Oleh karena itu, diktat 171 halaman ini layak disebut “diktat bodong.” (Bersambung)

TIM FAKTA (FORUM ANTI GERAKAN PEMURTADAN)

Melayani Diskusi, Dialog dan Konsultasi Agama.

Kontak Pengasuh:

081.8844.393, 0813.8000.4080, 0816.542.5227, 0815.833.8083, 0813.8338.4433, 021-70500066, 021-71555100.

PO Box 1426 Jakarta 13014. http://timfakta.swaramuslim.com

E-mail: faktapusat@yahoo.comAlamat email ini sudah di proteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihat alamat email ini , faktapusat@gmail.comAlamat email ini sudah di proteksi dari spambot, silahkan aktifkan Javascript untuk melihat alamat email ini

Dompet Anti Pemurtadan:

Bank Muamalat No Rek 305.1959.422

BCA No Rek 1661.804.888

Sumber: Cyber Sabili

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s