Awas Penyebaran Diktat Bodong (2)

Setelah membeberkan ringkasan isi dari diktat berjudul Menelusuri Jejak–Jejak Komunis dalam Pergerakan Islam, pada tulisan kedua ini akan dijelaskan beberapa alasan kenapa diktat ini disebut ”bodong”.

Pertama, diktat ini sangat jauh dari nilai-nilai Islam, terlebih jika dinisbatkan pada tokoh nasional berpredikat “kiai haji”. Orang yang berpredikat seperti ini, tak mungkin menuduh ibadah haji sebagai bukti bahwa Islam diperalat oleh ulama dan penjajah negara-negara Arab (hlm 136).

Bahkan, penulis diktat ini menuduh ibadah haji sebagai cara memutihkan uang hasil korupsi, sehingga peningkatan jumlah jamaah haji seiring dengan peningkatan kasus korupsi di negeri ini (hlm 51).

Tuduhan ini salah besar. Ibadah haji bukan keharusan mutlak yang wajib dikerjakan dengan menghalalkan segala cara, karena haji hanya diwajibkan bagi umat Islam yang mampu saja (QS Ali Imran: 97).

Ibadah haji juga bukan pemutihan uang korupsi, karena al-Qur’an melarang keras segala bentuk pencurian –termasuk korupsi– dengan hukuman potong tangan (QS al-Ma’idah: 38). Allah melarang perbuatan curang (QS al-Muthaffifin: 1)

Salah satunya, korupsi.

Baca lebih lanjut

Awas Penyebaran Diktat Bodong (1)

Beberapa pekan terakhir di bulan Maret 2009 ini, Tim Fakta menerima laporan bahwa telah beredar diktat berjudul Menelusuri Jejak–Jejak Komunis dalam Pergerakan Islam. Diktat berjilid spiral ini berisi kliping berita, artikel media cetak serta komentar penyusun pada tiap kliping yang umumnya menyudutkan Islam.

Rupanya, sang penyusun–yang mengaburkan identitasnya–ini mengirimkan diktat karyanya pada tokoh-tokoh penting di negeri ini. Di antaranya, Menteri Agama, Menkopolkam, Kapolri, Kejaksaan Agung, para Gubernur, Bupati/Walikota, Ketua DPRD se-Indonesia, pengurus MUI, Ketua FPI, Ketua Majelis Mujahidin Indonesia, Ketua Hizbut Tahrir Indonesia, BEM UI, BEM UGM, media cetak, televisi dan lainnya.

Kliping berita dan artikel dalam diktat ini berisi beberapa hal.

Pertama, berita kriminal yang dilakukan oknum beragama Islam.

Kedua, wawancara Nasr Abu Zayd, tokoh liberalis Muslim terkemuka (hlm 107).

Ketiga, cuplikan berita dari Tabloid Katolik Sabda tentang musibah yang menimpa Pastor Romo Antonius Beni Susetyo, Sekretaris Eksekutif KWI (hlm 155).

Keempat, artikel Frans Magnis Suseno SJ yang mengkritik UU Pornografi sebagai ”ancaman tersembunyi” (hlm 62), dan lainnya.

Berikut ringkasan keseluruhan isi dari diktat ini:

Baca lebih lanjut