Bentengi Pesantren dari Bahaya Sepilis! (2)

BKsPPI Tolak Buku Liberal.Inilah tragedi keilmuan di lembaga pendidikan Islam, khususnya di pesantren.Oleh: Adhes Satria

Jakarta- Menurut Adian Husaini saat menyampaikan makalahnya yang berjudul “Bahaya Liberalisasi Pendidikan Islam”, banyak yang tidak menyadari, bahwa sejak beberapa puluh tahun lalu, telah dilakukan proses liberalisasi pendidikan Islam secara sistematis melalui sistem perubahan metode studi Islam di Perguruan Tinggi di Pondok Pesantren.

Salah satu caranya, adalah mengirim dosen dan guru agama secara besar-besaran untuk belajar Islam di pusat-pusat studi Islam di Barat.

Hasilnya, kini para alumni, telah berhasil menancapkan kukunya di perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia, termasuk pesantren sebagai targetnya. Pada Januari 2008 lalu, para alumni Studi Islam McGill University menerbitkan sebuah buku berjudul ‘Paradigma Baru Pendidikan Islam’.

Disamping merupakan rekaman implementasi IAIN Indonesia Social Equity Project (IISEP) 2002-2007. Buku ini melaporkan keberhasilan proyek westernisasi studi Islam di Perguruan Tinggi

“Secara sistematis, metode studi Islam telah diubah mengikuti sistem dan paradigma Barat, dengan dalih menerapkan metode ‘objektif ilmiah’. Hasilnya, tidak sedikit yang belajar Islam, kemudian menjadi bingung dan ragu-ragu terhadap Islam. Bahkan banyak sarjana muslim secara terang-terangan menghujat Islam,” kata Adian.

Lebih jauh, jika menelaah buku-buku terbitan ICIP, seperti buku Fiqih Lintas Agama (Interfaith Theology), ICIP telah membongkar bangunan konsep ushul fiqih yang dibangun oleh Imam Syafi’i. ICIP menuding pemikiran-pemikiran fiqih Syafi’I tidak berkembang selama kurang lebih dua belas abad.

“Jika konsep dasar Ilmu Fiqih dibongkar, maka langkah berikutnya adalah membongkar hukum-hukum Islam dalam masalah hubungan antar-agama. Misalnya, hukum tentang perkawinan wanita Muslimah dengan lelaki non-Muslim. Dalam hal ini dibolehkan,” kata Adian, Kandidat Doktor bidang Perbandingan Agama di Universitas Islam Internasional Malaysia (UIIM).

Penerbitan buku Fiqih Lintas Agama edisi bahasa Inggris, kabarnya juga sedang dipersiapkan edisi bahasa Arabnya. Hal ini seharusnya mendapat perhatian serius bagi umat Islam, khususnya para pimpinan pondok pesantren.

Mengapa?

Karena ICIP adalah sebuah lembaga yang aktif memasukkan ajaran-ajaran Pluralisme Agama ke pesantren-pesantren. Dengan sokongan dana puluhan milyar rupiah dari lembaga-lembaga asing seperti Ford Foundation, The Asia Foundation dan sebagainya,

ICIP sering membuat acara-acara dan program “pembinaan” Pondok Pesantren. Inilah tragedi keilmuan di lembaga pendidikan Islam, khususnya di pesantren. Saatnya, kita bentengi pesantren akan bahaya liberalisasi.

Sumber: Cyber Sabili

4 thoughts on “Bentengi Pesantren dari Bahaya Sepilis! (2)

  1. Yg sudah terkena pemikiran libeberal,komunitas muda NU dan Muhamadiah juga dosen- dosen di Perguruan Islam Negeri.
    Saya kuatir sepuluh atau dua puluh tahun lagi banyak generasi islam di indonesia , tidak lagi mengamalkan ajaran agamanya.
    Seperti ungkapan Wadha Hafiz ,yg katanya dia sudah tidakmelakukan ritual /sholat. Katanya dengan semua itu,tidak dapat merubah kemiskinan.
    Saya yg orang awam berpendapat,bahwa sholat bukan untuk merubah orang miskin menjadi kaya,tapi hasil nya kita akan petik diakhirat nanti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s