Don’t Expect Too Much On Obama!!

Obama Among Jewish People

It is obvious that Barack Hussein Obama, the current president of United States of America (USA), used a very hypnotic slogan in his presidential campaign last year (2008), which was “CHANGE: We Can Believe In“. That slogan had successfully drugged most people of USA, and even most people of the world, including Indonesia. It is understandable, as he had been expected by the world to be able to change the USA’s foreign policies, after all the mess his predecessor –George Walker Bush– had done with Iraq, Afghanistan, Guantanamo, and most of the Muslim world.

Many people in Indonesia even had more pride and hope on him becoming the president of a superpower country. In my opinion, that was because of one rather unacceptable reason, which was an improper pride of Barry (the nickname of little Obama), concerning that he had been staying and studying in Jakarta for a couple years, when he was just an elementary school kid. They might have different opinion if only they know the truth. Now I can say, don’t expect too much on Obama! Why? I’ll tell you why.

Read more..

Bentengi Pesantren dari Bahaya Sepilis! (2)

BKsPPI Tolak Buku Liberal.Inilah tragedi keilmuan di lembaga pendidikan Islam, khususnya di pesantren.Oleh: Adhes Satria

Jakarta- Menurut Adian Husaini saat menyampaikan makalahnya yang berjudul “Bahaya Liberalisasi Pendidikan Islam”, banyak yang tidak menyadari, bahwa sejak beberapa puluh tahun lalu, telah dilakukan proses liberalisasi pendidikan Islam secara sistematis melalui sistem perubahan metode studi Islam di Perguruan Tinggi di Pondok Pesantren.

Salah satu caranya, adalah mengirim dosen dan guru agama secara besar-besaran untuk belajar Islam di pusat-pusat studi Islam di Barat.

Hasilnya, kini para alumni, telah berhasil menancapkan kukunya di perguruan-perguruan tinggi Islam di Indonesia, termasuk pesantren sebagai targetnya. Pada Januari 2008 lalu, para alumni Studi Islam McGill University menerbitkan sebuah buku berjudul ‘Paradigma Baru Pendidikan Islam’.

Disamping merupakan rekaman implementasi IAIN Indonesia Social Equity Project (IISEP) 2002-2007. Buku ini melaporkan keberhasilan proyek westernisasi studi Islam di Perguruan Tinggi

“Secara sistematis, metode studi Islam telah diubah mengikuti sistem dan paradigma Barat, dengan dalih menerapkan metode ‘objektif ilmiah’. Hasilnya, tidak sedikit yang belajar Islam, kemudian menjadi bingung dan ragu-ragu terhadap Islam. Bahkan banyak sarjana muslim secara terang-terangan menghujat Islam,” kata Adian.

Baca lebih lanjut

Bentengi Pesantren dari Bahaya Sepilis! (1)

Waspadai LSM berkedok Islam.

Ada LSM lokal dengan dana asing yang sangat aktif menyebarkan paham Pluralisme Agama dan kesetaraan gender di pondok-pondok pesantren

Oleh: Adhes Satria

resize001Jakarta- Bahaya tengah mengancam pesantren dan perguruan tinggi Islam. Bak virus mematikan, Sekularisme, Pluralisme dan Liberalismei menyusup ke dalam tubuh pesantren dengan dalih pencerahan dan peningkatan wawasan keagamaan, budaya dan social di kalangan pesantren.

Waspadai LSM-LSM berkedok Islam yang selama ini aktif menyebarkan buku-buku berpaham Pluralisme Agama dan kesetaraan gender. Mereka disokong dana puluhan milyar rupiah dari lembaga-lembaga asing (Ford Foundation & The Asia Foundation), untuk membuat acara-acara dan program “pembinaan” Pondok Pesantren.

Sebut saja ICIP (International Center for Islam and Pluralism), sebuah LSM yang sangat aktif menyebarkan paham Pluralisme Agama dan kesetaraan gender di pondok-pondok pesantren.

Majalah terbitan ICIP “Al-Wasathiyyah” adalah bentuk penyebaran kaum Jaringan Iblis Laknatullah (JIL) melalui doktrin Sepilis (Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme). Media tersebut memang disebarkan ke beberapa kalangan pesantren.

Baca lebih lanjut