“Kultwit” tentang Ghazwul Fikriy oleh Akmal Sjafril

“Kultwit” merupakan salah satu istilah yang sering digunakan di kalangan pengguna Twitter di Indonesia, yang merujuk pada “Kuliah Twitter”. Kultwit merupakan serangkaian “tweet” berkesinambungan yang digunakan untuk saling berbagi wawasan, pengetahuan, atau pemikiran mengenai topik tertentu.

Berikut ini saya tampilkan isi kultwit tentang Ghazwul Fikriy (Perang Pemikiran), yang dituliskan oleh Akmal Sjafril pada tanggal 28 Januari 2011 melalui akun twitter beliau (@malakmalakmal) dengan menggunakan hashtag #GhazwulFikriy. Selamat membaca, mudah-mudahan Allah menambahkan ilmu yang barokah bagi kita semua ;)

01. Kemarin sy menjadi narasumber di Radio Dakta. Temanya ttg sikap aktivis dakwah thd #GhazwulFikriy

02. Sebagian dr yg sy sampaikan di situ sudah tercantum dlm buku #IslamLiberal101. #GhazwulFikriy

03. Saya yakin banyak yg sdh kenal #GhazwulFikriy. Artinya kurang lebih: Perang Pemikiran.

04. Keterlaluan kalau ada aktivis dakwah yg tdk tahu #GhazwulFikriy. Sebagian harakah menjadikannya bahasan khusus dlm kaderisasi.

05. Tapi kalau soal menerjunkan diri ke dlm kancah #GhazwulFikriy, jawabannya bisa macam2.

06. Dr pengalaman, banyak yg enggan terjun dlm #GhazwulFikriy. Misalnya dlm masalah Islam liberal.

Baca lebih lanjut

NU Jatim Prediksi Lebaran 2010 Bersamaan

Hilal akan sulit dirukyat akibat konjungsi (pertemuan matahari dan rembulan) terjadi pada pukul 17.20 WIB

Hidayatullah.com–Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur memprediksi Lebaran 2010 akan jatuh pada waktu bersamaan karena konjungsi (ijtimak) terjadi pada Rabu (8/9) pukul 17.20-17.30 WIB.

“Hilal akan sulit dirukyat akibat konjungsi (pertemuan matahari dan rembulan) terjadi pada pukul 17.20 WIB. Kalau malam, rukyat akan sulit,” kata Wakil Rais Syuriah PWNU Jatim KH Hasjim Abbas kepada ANTARA di Surabaya, Sabtu.

Kendati demikian, kata ahli falaqiah (astronomi) PWNU Jatim itu, PWNU Jatim akan tetap melaksanakan rukyatul hilal (melihat hilal/rembulan muda secara kasat mata) di sejumlah daerah.

Lokasi “rukyatul hilal” NU se-Jatim antara lain Bukit Condro Dipo Gresik, Pantai Kenjeran Surabaya, Pantai Serang Blitar, Pantai Ngliyep Malang, Pantai Gili Ketapang Probolinggo, Pantai Tanjung Kodok Lamongan, Pantai Plengkung Banyuwangi, Pantai Gebang Bangkalan, Pantai Ambat Pamekasan, dan sebagainya.

“Itu (rukyat) karena NU berpedoman pada `rukyat bin-nadzar` (melihat hilal dengan mata telanjang), sedangkan Muhammadiyah berpedoman pada `rukyat bil ilmi` (melihat hilal dengan ilmu matematika),” katanya.

Namun, katanya, secara matematik tampaknya usia Ramadhan akan “istikmal” (digenapkan/disempurnakan) menjadi 30 hari, sehingga awal Syawal 1431 Hijriah akan bertepatan dengan 10 September 2010.

Baca lebih lanjut

Menag: Gagalkan Gugatan Kebebasan Beragama di MK


printSend to friend

MEDAN–Menteri Agama Suryadharma Ali mengajak seluruh ormas Islam dan komponen Islam serta seluruh umat beragama untuk bersama-sama menjadi satu kekuatan menggagalkan gugatan sekelompok massa terhadap kebebasan beragama. ”Dengan dukungan dari semua pihak, saya merasa makin kuat dan makin tegar untuk menggagalkan sekelompok orang atau LSM yang menggugat kebebasan beragama ke MK,” tegas Menag dalam pengarahan dan pembekalan terhadap jajaran kementerian agama di wilayah Kanwil Sumatera Utara dan sejumlah pimpinan Perguruan Tinggi serta Ormas Islam di Medan, Jumat (29/1).

Dijelaskan Menag bahwa agama yang diakui di Indonesia ini ada enam. Yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha dan Konghuchu. ”Pengakuan terhadap enam agama ini dianggap diskriminatif, kemudian UU no 1 PNPS tahun 1965 dihadap-hadapkan dengan UUD pasal 28 E soal kebebasan oleh sekelompok orang ini,” tegas Menag. ”Ini sangat berbahaya,” tambahnya.

Diakui Menag bahwa saat ini pihaknya bersama Menkum HAM tengah menyiapkan argumen-argumen hukum yang tepat untuk menggugurkan dalil-dalil yang digunakan sekelompok orang dalam menggugat kebebasan beragama.

”Menteri agama dan Menkum HAM menjadi kuasa pemerintah terhadap gugatan sekelompok orang ke MK soal kebebasan beragama. Saya minta bantuan pada PBNU dan seluruh ormas lainnya dan komponen Islam untuk menghadapi gugatan ini bersama-sama,” tegas Menag.

Baca lebih lanjut

Tidak Pada Tempatnya Melecehkan Syiar Agama

Silahkan menolak fatwa, namun jika sudah melecehkan wibawa ulama, jelas itu melecehkan syiar Islam, ujar pakar syariah.

 Robin Max Marder/Illustration Works/CorbisHidayatullah.com – Ungkapan mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan Meutia Hatta yang dikutip media massa menyangkut fatwa rebonding terus mendapatkan tanggapan.

Pakar hukum syariah dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Dr Muinudinillah, MA mengatakan, kritikan putri proklamator itu tidak tepat dan bukan pada tempatnya. Menurut Muin, tugas ulama adalah memberikan penjelasan atau fatwa tentang hal-hal yang berurusan dengan ummat. Baik diminta atau tidak. Jika masyarakat umum, termasuk dirinya (Meutia Hatta, red) tidak tahu kapasitas dan tugas ulama, sebaiknya diminta menjaga diri. “Janganlah berbicara tanpa ilmu,” ujarnya kepada hidayatullah.com.

Pakar hukum Syariah lulusan Riyad ini menjelaskan, masyarakat sebaiknya mulai belajar menempatkan diri secara adil. Silahkan para ahli berkomentar sesuai ahlinya dan sesuai posisi masing-masing. Jika keluar dari koridor itu, bisa dianggap tak tahu diri.

“Seharusnya orang harus memahami posisi satu sama lainnya. Ulama ya bicara tentang hukum, syariat Allah, karena dia yang menjadi rujukan ilmu dalam hal ini,” kata Muin, dalam perbincangan dengan Hidayatullah.com, Rabu (20/01).

Baca lebih lanjut

Silakan Tonton, Jangan Percayai Film 2012

JAKARTA–Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Hasyim Muzadi, mengimbau masyarakat untuk tidak mempercayai film 2012. Dan meminta masyarakat kembali kepada agama. “Film 2012, tidak usah dipercaya, kembali ke agama, bahwa tidak ada seorang pun yang tahu tentang kiamat,” tandasnya kepada wartawan usai membuka usai membuka International Workshop, Raising Awarness of The UN Global Counter-Terrorism Strategy Among Civil Society In Southeast Asia di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (18/11).

Menurut Hasyim, jika film ini menggambarkan kiamat boleh saja, tapi jika film ini menentukan kiamat tidak boleh. Hal senada dikatakan Sekretaris Majelis Ulama Indonesia (MUI), DKI Jakarta yang juga Wakil Ketua Bahtsul Masail PBNU, Cholil Nafis. Dia mengatakan masyarakat muslim dipersilakan untuk menonton film 2012 sebagai gambaran kiamat dan dunia ini akan musnah. Tapi tidak boleh mempercayai kapan akan terjadi waktu kiamat. “Karena yang tahu kapan kiamat hanya Allah SWT,” katanya.

Baca lebih lanjut

Gerakan Liberal Perlu Disikapi

NU tak ada kaitan dengan Jaringan Islam Liberal.

KEDIRI — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Hasyim Muzadi, menyatakan, liberalisasi pemahaman melahirkan gerakan yang ekstrem. ”Gerakan liberalisme dan ekstremisme di Indonesia perlu disikapi,” katanya di Kediri, Jawa Timur, Ahad (18/10).

Baca lebih lanjut